Istri Petrus Bakus Menangis di PN Sintang

Sintang

Editor sutan Dibaca : 1095

Istri Petrus Bakus Menangis di PN Sintang
Suasana sidang lanjutan pembunuhan dua anak kandung oleh Brigadir Petrus Bakus di PN Sintang, Senin (8/8). (suara pemred/abdul halikurrahman)
SINTANG, SP - Windri Hairin Yanti (26), istri Brigadir Petrus Bakus, mengucurkan air mata selama bercerita tentang kronologis pembunuhan dua anak kandungnya oleh Bakus.  "Itu anak kami berdua," katanya terisak di  Pengadilan Negeri Sintang, Senin (8/8).  

Agenda persidangan kemarin masih mendengarkan keterangan tiga saksi memberatkan yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andi Tri Saputro dari Kejaksaan Negeri Sintang. Kesaksian Windri yang paling menarik perhatian ratusan pengunjung.  

Menurut Windri di hadapan majelis hakim, kejadian sadis tersebut terjadi pada Kamis (25/8) malam. Ketika itu, dirinya sedang tidur. Sekitar pukul 00.00 WIB dini hari, terdakwa dilihatnya membawa senjata tajam berupa parang, tepat berduiri berada di depannya.


"Saat itu, saya bertanya, 'kenapa kau? mau bunuh aku, ya? Terdakwa menjawab, iya. Kemudian saya katakan, sebelum bunuh saya, saya mau lihat anak saya dulu. Kata Bakus, anak kita sudah tidak ada'. Dan,  saya liat anak-anak sudah tidak bernyawa. Dualengan dan kaki mereka sudah terpisah dari badannya, di depan pintu kamar," ungkap Windri yang terus mengucurkan air mata.

Kala itu, Windri mengaku langsung memeluk suaminya sembari bertanya, apakah terdakwa sadar melakukan perbuatannya ini.

"Bakus mengatakan, 'sadar'. Lalu terdakwa menyatakan sudah ikhlas dengan kepergian kedua anaknya. Bahkan, terdakwa berkata perbuatan itu atas perintah Tuhan," terang Windri.

Untuk mengelabui sang suami, Windri mengaku sempat beralasan haus dan meminta Bakus mengambilkannya air minum.
"Saat terdakwa mengambil minum. Saya langsung keluar ke jalan dan berteriak minta tolong. Tetangga saya, Pak Sukadi, terbangun. Lalu,  saya lari ke rumahnya untuk meminta pertolongan," kata Windri.

Pada malam kejadian, Windri mengaku memang tidak tidur sekamar dengan kedua anaknya karena sedang marah kepada Bakus.
  "Saya  marah dengan Bakus, karena kedua anak saya dimandikan malam hari. Gari biasanya, saya tidur bersama,” kata Windri.

Beberapa hari sebelum kejadian, Windri menceritakan, keduanya anaknya sempat bertanya aneh kepadanya.

"Anak kedua saya sempat bilang ke saya, 'mama mau dibunuh?' Saya tanya, 'siapa yang mau bunuh mama?' anak saya bilang, 'papa'. Kemudian,  anak saya juga bilang, 'mama, kalau kita mati, berarti kita dikubur seperti kakek, ya? Jawab saya, 'iya'. Setelah itu, tak saya hiraukan lagi," kata Windri.

Keretakan Rumah Tangga

Dalam kesaksian Windri, majelis hakim juga mempertanyakan soal hubungan keluarganya sebelum kejadian. Windri mengaku, memang sudah terjadi keretakan.

Salah satu  masalah keretakan rumah tangga mereka, akibat kecemburuannya terhadap sikap Bakus yang sering memperoleh pesan singkat dari seorang perempuan yang tidak dikenalnya.
Windri  bahkan pernah dua kali meminta cerai kepada terdakwa.

"Dua kali saya minta cerai, yakni sebelum saya ke Jawa, dan sesudah pulang dari Jawa. Bahkan, Bakus berjanji akan mengembalikan saya kepada orang tua, " kata Windri.

Selama menikah bersama Bakus, Windri mengaku tak pernah mendengar cerita masa lalu suaminya yang aneh.  "Terdakwa hanya menceritakan kehidupannya yang sulit pada zaman dulu," kata Windri.

Sementara itu, JPU sempat mempertanyakan status kedua anaknya. Ini karena Windri mengaku hamil di luar nikah ketika terdakwa mempersuntingnya sebagai istri. "Tapi, itu anak kami berdua," tegas Windri.
 

Penasehat hukum terdakwa, Samuel Sihotang dalam persidangan tersebut turut mempertanyakan foto seorang pria yang disimpan oleh Windri.
Windri mengklarifikasi, pria di dalam foto  tersebut merupakan teman masa kecilnya. Foto itu disimpannya sebelum dinikahi Bakus.  "Bakus juga tahu hal itu," terang Windri.

Selain itu, ada sejumlah fakta baru yang diungkapkan oleh Windri dalam kesaksiannya selama sidang kemarin. Di antaranya, Windri  sempat mendengar terdakwa berteriak.

"Bakus berteriak 'Bajingan kau' Kejadian itu tak sampai seminggu sebelum kejadian. Saya sempat bertanya, 'kenapa pa?' Kata Bakus, 'Mereka ganggu saya," ungkap Windi.

Kepada para wartawan di sela-sela jedah sidang, JPU menyatakan, tak ada fakta bahwa terdakwa mengalami gangguan jiwa. "Ini berdasarkan fakta-fakta selama persidangan yang diungkapkan oleh istri terdakwa," katanya.
 

"Di persidangan tersebut, hanya terungkap fakta keretakan rumah tangga terdakwa dengan istrinya," lanjutnya.

Pihak JPU sendiri akan membuktikan dakwaannya, yakni perbuatan terdakwa yang telah menghilangkan nyawa orang. (abd/bob/pat/sut)