Bank Mandiri Unit Sintang, Kalbar Digugat Rp 5 Miliar

Sintang

Editor sutan Dibaca : 11415

Bank Mandiri Unit Sintang, Kalbar  Digugat Rp 5 Miliar
ILUSTRASI (ekbis.sindonews.com)
PONTIANAK, SP – Bank Mandiri Unit Pelayanan Sintang,  Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, digugat Rp5 miliar, karena membocorkan data nasabah kepada pihak yang tidak berkepentingan.

 “Sidang perkara Nomor 15/PDT.G/2016/PM.STG, sudah dalam tahap kesimpulan akhir. Tinggal menunggu putusan hakim pada Kamis, 3 November 2016 mendatang,” kata Yaswin, kuasa hukum penggugat pasangan suami-istri atas nama Heryadi  dan Herlina, Jumat (28/10/2016).  

Menurut Yaswin, dalam persidangan, Bank Mandiri terbukti dan ada bukti kuat menyatakan telah melakukan pembocoran rahasia nasabah, dan simpanannya pada rekening tabungan dan kartu kredit jenis Visa Gold.  

Dikatakan Yaswin, sebagai pihak bank seharusnya dilarang untuk membocorkan sejauh sampai detil memberitahukan identitas nasabah, nomor rekening tabungan nasabah dan nomor kartu kredit nasabahnya kepada orang lain dalam bentuk apapun.  

Diungkapkan Yaswin, perbuatan Bank Mandiri Unit Pelayanan Sintang, melanggar pasal 40 Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 dan perubahan terhadap Undang- Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan.

 “Pembocoran atau pemberitahuan rahasia Bank terhadap Nasabah dan simpannya itu boleh saja sebagai pengecualian yaitu hanya kepada antar Bank, Bank Indonesia, petugas pajak, PPATK, penegak hukum dalam perkara korupsi maupun perkara pencucian uang. Selain itu tentu melanggar aturan perbankan,” papar Yaswin.  

Menurut Yaswin, memberikan rahasia nasabah selain yang ditunjuk dan diberi wewenang dalam undang-undang, bisa dilakukan bila ada persetujuan dalam bentuk bukti tertulis. Namun apabila tidak diikuti dengan bukti tertulis maka melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh sebuah Lembaga Pengawas bank atau Lembaga perlindungan Konsumen atau perlindungan nasabah bank yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 01 /POJK.7/2013, tanggal 6 Agustus 2013,  tentang Larangan kepada Bank untuk mempromosikan produk atau programnya melalui telepon atau Short Message Service (SMS) kepada Konsumen atau calon Kosumen.

"Jika dilanggar ada sanksinya,” ujar Yaswin.  

Persoalan ini muncul, kata Yaswin, kleinnya  Heryadi  pernah ditawari program salah satu hotel dalam bentuk 'penginapan gratis berapa hari dan mendapat diskon besar dari  harga kamar salah satu hotel bintang lima'  yang  berlaku di seluruh Indonesia.
 

Namun Heryadi tidak berminat.  Meski ditolak,  pihak marketing hotel dan Bank Mandiri masih tetap memaksakan Heryadi didaftar sebagai membership yang bukti dan kartu member hotelnya dikirimkan ke alamat Heryadi  di Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo Sintang. 

 “Tak lama berselang  tiba-tiba muncul surat tagihan dari Bank Mandiri. Akhirnya terjadilah sanggah-menyanggah yang memakan waktu panjang,  sehingga  Heryadi tetap dikenakan beban pembayaran jutaan rupiah oleh Bank Mandiri.  Sebagai akibat dianggap pembayarannya terlambat dan dipaksa harus membayar lunas,” ungkap Yaswin. 
 

Akibat kejadian tersebut,  Heryadi tidak terima karena berdampak kepada nama baiknya secara pribadi maupun perusahaan.    “Saat ini meski sudah membayar lunas. Saya  masih terdaftar sebagai nasabah bank yang bermasalah. Dalam istilah perbankan dikenal dengan nama di Sistim Informasi Debitur (SID) “Terdaftar” di Bank Indonesia,” kata Heryadi dihubungi terpisah. 

 Sebagai nasabah yang bermasalah sampai sekarang masih didaftar di SID Bank Indonesia atas laporan Bank Mandiri, Heryadi mengaku dirugikan miliaran rupiah  karena tidak dapat kesempatan mendapatkan suntikan dana dari semua bank dalam kurun waktu sampai dengan Juni 2017. 

 Mulai Juni 2016 sampai Juni 2017, haknya selaku pengusaha terkekang  dan dibatasi. Sehingga  selama  satu tahun tidak dapat diberi pinjaman atau pembiayaan dari Bank Pemerintah maupun  swasta.

"Selaku nasabah  kami merasa mendapat hukuman yang tidak adil dari perbankan.  Akibatnya kami  dirugikan miliaran rupiah, maka kami  mengajukan gugatan di Pengadilan Sintang. Tujuannya adalah minta keadilan,” papar Heryadi. (lam/aju/sut)