TBC dan Kaki Gajah ‘Hantui’ Sintang

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 491

TBC dan Kaki Gajah ‘Hantui’ Sintang
ilustrasi
SINTANG, SP – Dua penyakit menular, Tuberculosis (TBC) dan Kaki Gajah, masih jadi ancaman utama masyarakat Kabupaten Sintang. Oleh karena itu, menurut Kadiskes Kabupaten Sintang, Harsyinto Linoh, berbagai upaya dilakukan, sebab upaya penyembuhan terhadap korban yang menderita penyakit tersebut, justru butuh pendampingan dari orang-orang terdekat.  

Sebagian besar masyarakat masih sering melakukan pengucilan terhadap penderita dua penyakit menular ini. Saat ini, kata pria yang akrab disapa Sinto, tercatat ada 19 kasus penderita Kaki Gajah di Kabupaten Sintang. Dari 19 kasus tersebut 7 diantaranya meninggal dunia.  

“Saya menyayangkan anggapan sebagian besar masyarakat, yang mengatakan bahwa penderita penyakit tersebut harus dikucilkan agar tidak menulari orang-orang sekitar,” paparnya.  

Pada zaman dahulu, papar Sinto, penderita TBC ditaruh di tempat anatorium oleh masyarakat. Tempat di mana udara dingin, namun sekarang tidak perlu dilakukan. Penderita TBC tidak perlu dikucilkan.
 

Meski tidak ingat betul berapa total jumlahnya, Sinto mengatakan angka penderita TBC di Sintang masih cukup tinggi. Ia pun berharap agar penderita TBC dan orang-orang terdekat tidak abai terhadap penyakit tersebut sebab masih bisa disembuhkan. Sinto bahkan menyesalkan ada sebagian penderita TBC yang justru melanggar aturan dokter dalam upaya penyembuhannya sendiri.  

“Harusnya makan obat selama enam bulan, tapi sebelum sampai sudah diberhentikan. Berhenti sendiri, capek minum obat toh sudah sembuh begitu pemikiran mereka. Ujung ujungnya kambuh lagi tapi tidak bisa mengunakan obat pertama, karena itu sudah gagal,” paparnya.  

Kasus TBC, sebut Sinto cukup berbeda. Ia mengambil ilustrasi, apabila buta huruf bisa nol apabila yang tua meninggal. Namu, untuk TBC, apabila yang tua meninggal, yang muda justru banyak.  

“Penularan TBC melalui udara. Lagi-lagi soal prilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya.   Menurut Sinto, masyarakat saat ini tidak perlu mengucilkan penderita TBC. Hal ini pula yang saat ini tengah dilakukan Dinas Kesehatan untuk memberikan kesadaran terhadap penderita dan orang sekitar.  

“Penderita TBC itu boleh masih hidup bersama. Hanya saja, pada saat batuk harus menggunakan sapu tanan untuk menutup mulut. Kalau perlu pakai masker. Orang harus tahu, penderitaTBC, ndak perlu dijauhi,” saran Sinto.  

Sinto mengungkapkan, penyakit TBC bisa disebuhkan. Asalkan, penderitanya mau dan sadar meminum obat hingga enam bulan. Setelah itu, dia menjamin pasti ada penyembuhan. Dia mengaku prihatin, jika ada penderita yang memutuskan berhenti minum obat sebelum sampai dinyatakan pulih.  

“Penyakit TBC bisa sembuh. Bahkan, kalau TBC biasa tanpa resistensi, dia makan obat enam bulan ada perbaikan. Obatnya gratis lagi. Tapi udah digratiskan bulan pertama, bulan kedua ndak datang. Itu yang kami sayangkan,” ungkapnya.  
Pengucilan tak hanya terjadi pada penderita TBC, tapi juga penderita Kaki Gajah. Masyarakat sebut Sinto, masih menganggap kasus ini menular. Dijelaskan dia, penyakit ini ditularkan melalui perpindahan gigitan nyamuk.  

“Nyamuk yang mengigit penderita kaki gajah, lalu menggigit orang lain, bisa tertular,” imbuhnya.   Menurut Sinto, kasus tahun lalu itu ditemukan di Nanga Mau, Kecamatan Kayan Hilir dengan keadaan kakinya yang sudah besar membengkak terjadi pada kasus lama.  

“Makanya tahun ini, ada Pencanangan Eliminasi Penyakit Kaki Gajah selama lima tahun. Masyarakat Sintang sudah diberi obat pencegahan, dan ini gratis. Semoga program ini bisa jadi satu di antara alternatif pencegahan,” paparnya. (nak/mul)