Warga Sintang Bingung Kelola Cetak Sawah

Sintang

Editor Syafria Arrahman ST Raja Alam Dibaca : 285

Warga Sintang Bingung Kelola Cetak Sawah
TANAM BERSAMA – Bupati Sintang, Jarot Winarno Warga, hadir pada kegiatan tanam pertama program cetak sawah beberapa waktu lalu. Di Kecamatan Kelam Permai, warga dari empat desa mengaku tidak bisa mengelola sawah dari program pemerintah ini, karena hasil c
SINTANG, SP - Warga empat desa di Kecamatan Kelam Permain, mengakui tidak bisa mengelola sawah dari program pemerintah, karena hasil cetak sawah tidak maksimal. Oleh karena itu, masyarakat sekitar Bukit Kelam tersebut, memilih menambang batu, karena lebih menjanjikan.  

Namun, pasca diminta BKSDA untuk menghentikan aktivitas penambagan batu, masyarakat di empat desa yang mendiami lingkar Bukit Kelam ini, semakin bingung. Pasalnya sejak galian batu dilarang beroperasi, maka mereka tidak punya penghasila lagi.  

“Cetak sawah yang dibuat pemerintah belum bisa dimaksimalkan, sedangkan untuk membuka kebun, terganjal kawasan lindung, yang masuk wilayah konservasi. Bagaimana kami akan membiaya kehidupan sehari-hari,” kata tokoh Kecamatan Kelam Permai, Naya Amini.  

Adanya kondisi tersebut jelas disayangkan oleh Naya. Menurutnya, Pemkab belum siap mencari solusi atas dilema yang dihadapi masyarakat. Seharusnya, kata Naya sebelum meminta masyarakat menghentikan aktivitas penambangan, Pemkab sudah memikirkan solusi terbaiknya.  

“Kalau itu dilarang, masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang ada aturannya namun alangkah lebih baik dicarikan solusi bersama. Sehingga Pemkab enak, masyarakat pun nyaman,” ujarnya.  

Menurut Naya, masyrakat yang bermukim di lingkar Bukit Kelam, sudah tinggal secara turun temurun hingga menetap. Apabila galian batu masyarakat dilarang, akan berdampak terhadap ekonomi warga.  

“Belum tentu setelah mereka berhenti dari menggali, bisa langsung mendapatkan pekerjaan lain. Ini dilema masyarakat, karena Pemkab hanya melarang, namun tidak ada solusi," keluh Naya.  

Pemkab, kata Naya memang pernah mencetak sawah seluas 20 hektare untuk masyarakat yang tinggal di Lingkar Bukit Kelam. Namun nyatanya, sawah tersebut hingga saat ini tidak dipergunakan. Sebab, masyarakat tidak pernah didampingi untuk mengelola sawah.  

“Tanah hanya dikeruk. Tapi irigasi, tanggulnya tidak ada. Bagaimana kami mau tanam padi. Masyarakat jelas kecewa, karena ini hanya dijadikan proyek saja," paparnya.  

Keluhan serupa disampaikan Anton, yang menyiratkan kondisi tersebut sebagai bentuk nyata ketidaksiapan pemerintah. Seharusnya, kata Anton, tanah yang sudah dicetak untuk sawah itu, dipikirkan juga untuk irigasi pengairannya. Setelah itu, masyarakat juga harus didampingi oleh penyuluh untuk mengolah tanah.  

"Kalau sawahnya tidak diolah ya sama saja percuma mencetaknya. Pernah kami tanam padi, tapi gagal. Kerja tidak ada hasil, hanya buang waktu dan tenaga saja. Bagus kerja lain yang lebih jelas seperti gali batu, itu pemikiran masyarakat,” ungkap Anton.  

Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Sintang, Juwita saat dikomfirmasi mengenai cetak sawah yang dikeluhkan masyarakat mengatakan, sawah yang sudah dicetak tentunya belum bisa langsung digunakan.  

“Sawah yang sudah dicetak masih perlu perbaikan. Cetak sawah tidak begitu cetak langsung operasional, sebab tingkat keasaman unsur tanah terlalu tinggi dan sebagainya," ujar Juwita.  

Juwita memastikan sawah yang telah dicetak akan tetap difungsikan, hanya saja hasil cetak sawah masih perlu pembenahan dan pematangan seperti pembenahan pada saluran irigasi maupun tanggulnya. Begitu juga dengan jalur usaha taninya. Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat untuk bersabar dan tidak asal menilai suatu pekerjaan sebagai sebuah kegagalan.  

Perlu waktu dan tidak mudah, sebab megubah budaya bertani, memerlukan perubahan sikap dan perilaku petani. Termasuk upaya untuk mengolah sawah mengunakan mesin teknologi pertanian. Cara bertanam juga mau diubah.  

“Bagi mereka yang dulunya berladang berpindah ke bertani menetap, tentu butuh proses dan waktu. Perlahan-lahan, kami akan perbaiki sistem pertanian intensif. Dulu masih ekstensifikasi berpindah, dan kini harus mengubah konsep," papar Juwita. (nak/mul)