Petani Karet di Sintang Resah

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 322

Petani Karet di Sintang Resah
JUAL KARET – Petani Karet di Sintang, menjual hasil sadapan. Saat harga karet anjlok sejak tiga bulan terakhir, mereka semakin resah. Sebelumnya, petani sangat bergairah, karena harga sempat mencapai Rp11.000 per kilogram, namun kini hanya Rp5-6 ribu. DOK
SINTANG, SP - Petani karet di Kabupaten Sintang semakin resah. Pasalnya, harga komoditi andalan ini terus turun harga, bahkan anjloknya hingga menyentuh level terendah. Keadaan ini sudah berlangsung sejak tiga bulan terakhir.  

Anjloknya harga karet, membuat sebagian besar petani yang mengantungkan hidup pada hasil komoditas ini, hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat banyak. Mereka mengharapkan Pemkab bisa mencari solusi terbaik dari masalah ini.  

“Merosotnya harga karet telah terjadi sejak tiga bulan terakhir. Sebelumnya, petani sangat bergairah, karena harga sempat mencapai Rp11.000 per kilogram,” kata Warga Desa Maijampung, Kecamatan Sintang, Damianus Aron.  

Petani, ujar Aron berharap, Pemkab bisa membuat kebijakan, agar harga karet selalu stabil. Kalau pun naik turun, tidak begitu memcolok. Kini, sejak tiga bulan lalu, harga karet hanya Rp5000-6000 per kilogram. Harga ini tentunya tidak sebanding dengan kerja yang dilakukan petani.  

Selain tidak sebanding, anjloknya harga karet semakin memberatkan beban ekonomi petani. Mereka yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil menyadap karet, merasa berat mencukupi kebutuhan.  

“Ini sangat dilematis, karena meski harganya terus turun, petani tetap harus menyadap karet, hanya demi bertahan hidup, karena tidak ada lagi mata pencaharian lain,” paparnya.  

“Harga ini benar-benar seperti mempermainkan kami, naik sebentar, namun turunnya jauh dan lama. Tidak pernah stabil, dan jelas tidak sebanding dengan harga barang kebutuhan pokok sehari-hari,” lanjut Aron.  

Dengan empat hektare kebun karet, Aron membutuhkan delapan jam untuk menyadap. Ia berdua dengan istrinya, dan sekali turun Noreh, suami istri ini menghasilkan 40 kilogram getah.
 

“Jika kondisi harga seperti ini, saya memilih menyimpan karet beku hasil sadapan. Dan akan saya jual saat harga mulai membaik, saya dan para petani lainnya, sangat mengharapkan bantuan Pemkab,” ujar Aron.

 Ketua Dewan Pembina Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kalbar, Milton Crosby mengatakan, anjloknya karet ditengarai lesunya ekonomi dunia, yang berpengaruh pada daya beli. Milton meminta, ketidakjelasan harga karet segera dicarikan solusi bersama.  

“Salah satunya dengan mengaet investor, yang mau menanamkan modalnya ke Sintang. Bisa saja dibangun industri karet. Saya lihat selama ini, karet yang dijual selalu dalam bentuk barang mentah,” tutur Milton.

  Mantan Bupati Sintang dua periode ini mengungkapkan, petani karet Kalbar pasti mampu menghasilkan bahan baku karet yang cukup. Dengan adanya pabrik, selain dapat menampung daya beli hasil sadapan petani dengan harga layak, keberadaanya juga dapat membuka lapangan kerja.  

“Saya yakin, kalau ada pabrik karet dapat mendongkrak harga komoditas ini terus stabil. Pemerintah punya peran penting dalam pengembangkan ekonomi kerakyakatan, oleh karena itu mari bangun pabrik karet,” pungkasnya. (nak/mul)