Distanbun Bentuk Lumbung Pangan

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 226

Distanbun Bentuk Lumbung Pangan
ilustrasi
SINTANG, SP – Produktivitas hasil pertanian yang di Kabupaten Sintang memang masih jauh dari target yang ditetapkan secara Nasional. Oleh karena itu, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) terus menggenjot bidang pertanian, khususnya di perbatasan.   Menurut Sekretaris Distanbun Kabupaten Sintang, Juwita, potensi pengembangan pertanian di perbatasan sangat potensial karena, sehingga memiliki modal besar jadi lumbung pangan nasional.  

“Jika dilihat dari teritorinya, Kabupaten Sintang dapat mengekspor hasil pertanian ke Malaysia. Saya yakin, kita bisa menjadikan wilayah perbatasan sebagai lumbung pangan nasional, sebab potensinya besar,” kata Juwita.  

Saat ini, lanjut Juwita, komoditas unggulan yang tengah digarap oleh masyarakat di perbatasan adalah lada dan karet. Oleh karena itu komoditas lain seperti padi, jagung, dan lain komoditas perkebunan lainnya, diharapkan bisa muncul dan berkembang di perbatasan.  

Menurut Juwita, untuk memaksimalkan potensi perkebunan dan pertanian di perbatasan, tidak hanya mengandalkan dana dari Pemkab saja, karena tidak akan mencukupi. Distanbun telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan).  

“Kita beruntung, Pempus juga berkomitmen untuk meningkatkan potensi pertanian dengan berbagai program yang sudah dicanangkan. Bantuan juga datang daru Pemprov yang sangat konsen dengan hal ini, kita akan terus bersinergi untuk membangun bidang pertanian,” jelasnya.  

Dengan bantuan khusus peningkatan komoditas pertanian dan perkebunan di Sintang, Juwita yakin ke depannya mampu swasembada pangan, bahkan bisa mengekspor hasilnya ke Malaysia.  

Ditegaskan juga oleh Juwita untuk nanti ke depan, bukan hanya satu komoditas saja yang akan dikedepankan, tapi juga semua komoditas yang dirasakan berpotensi untuk dikembangkan.  

“Kalau misalnya sawit dan karet harganya jatuh, lada bisa eksis. Di perbatasan sudah kami kembangkan. Kopi juga sudah kami coba, sehingga komoditi ini nantinya akan beragam,” kata Juwita. Disebutkan Juwita, pihaknya juga sedang mencoba meningkatktkan kualitas kelompok tani sebagai pelaku utama untuk dapat bermitra bersama pemerintah untuk meningkatkan mutu. Sebab, apabila mutu hasil pertanian dan perkebunan baik, maka berdampak pula terhadap harga jualnya.  

“Kami punya harapan besar, perbatasan jadi lumbung pangan nasional kedepannya. Mudah-mudahan lada, padi, karet, dan beberapa yang lainnya bisa berkembang,” ujar Juwita.  

Tokoh masyarakat perbatasan Sintang, Abdul Syukur mengatakan Pemkab harus punya prioritas utama dalam mengembangkan potensi pertanian. Sehingga, dengan adanya kerjasama semua pihak, potensi ini bisa terus dikembangkan.  

“Pemkab bisa mengkaji dan mensurvei terlebih dahulu potensi yang terbaik untuk dikembangkan. Jangan asal tanam saja, tetapi ada proses awal untuk mendukung pengembangannya,” kata Abdul.  

Menurut Abdul, adanya pengembangan potensi pertanian dan perkebunan di perbatasan, akan jadi daya tarik sendiri. Pengelolaan yang baik, tidak saja jadi lahan pengembangan pertanian, bisa saja dikembangkan jadi wisata agro.  

“Banyak yang bisa dilakukan, asalkan Pemkab benar-benar komitmen mengembangkan potensi yang ada,” pungkasnya. (nak/mul)