Disharmoni, Dominasi Perceraian di Sintang

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 466

Disharmoni, Dominasi Perceraian di Sintang
ilustrasi
SINTANG, SP - Kasus perceraian dalam rumah tangga di Kabupaten Sintang, terus meningkat setiap tahunnya. Pengadilan Agama (PA) Sintang mencatat, angka kenaikan tiap tahunnya mencapai 10-15 perkara.  

Meski peningkatan tersebut diakui tidak terlalu signifikan, namun menurut Humas PA Sintang, Yusri setiap tahun pasti terjadi peningkatan kasus gugatan cerai.   “Angkanya berkisar antara 10-15 perkara. Catatan ini cukup banyak, dan terus naik,” kata Yusri.   Menurut Yusri, angka perceraian tidak bisa dipastikan. Sebab, tergantung berapa banyak perkara yang masuk. Meningkatnya angka perceraian ini, sebut Yusri didasari oleh beberapa faktor. Yang mendominasi adalah faktor perselisihan dalam rumah tangga.  

Sepanjang Januari-Juni 2017, laporan faktor penyebab terjadinya perceraian menempatkan faktor perselisihan dan pertengkaran terus menerus menempati posisi pertama dengan 93 kasus.  

“Sebulan ada sekitar 10-14  perkara.Dan yang paling banyak 23 kasus, yakni di bulan Maret. Faktor perceraian salah satunya perselisihan dalam rumah tangga yang terus menerus terjadi antara suami istri itu, tidak lagi bisa diupayakan damai baik oleh keluarga yang bersangkutan, maupun sampai ke pengadilan,” sebut Yusri.
 

Sementara itu, faktor meninggalkan salah satu pihak, menjadi faktor kedua meningkatnya perceraian diamana angkanya tercatat mencapai 24 kasus. Ada pula faktor ekonomi, yang jadi penyumbang tinggi angka kasus perceraian dan menempati urutan ketiga dengan delapan kasus.   “Kasus perceraian sepanjang yang kita tangani, memang berada pada usia produktif, yakni usia 20-40 tahun. Di atas 40 tahun ke atas, agak tipis, sementara untuk 20 k ebawah belum ada,” terangnya.  

Yusri mengatakan, untuk membangun rumah tangga tidak saja diperlukan komitmen namun juga yang terpenting adalah pengetahuan. Sebab dengan pengetahuan karakter seseorang akan terbangun. Dengan pengetahuan pula, seseorang akan bijak dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dengan kepala dingin dan mengutamakan solusi buka ego.  

“Yang paling umum jadi korban adalah anak. Bagaimana bisa orangtua mendidik anak jika rumah tangganya saja berantakan,” paparnya.   Karena itu, Yusri berharap agar setiap pasangan yang telah memilih untuk menikah telah benarbenar mempertimbangkan keputusan mereka. Karena setelah berumah tangga maka cobaanya akan sangat berat.

Butuh rasa saling menghormati antar sesama pasangan dimana suami bisa memuliakan istri dan begitu juga sebaliknya.   “Membina rumah tangga tidak bisa semena-mena. Saling melengkapi setiap kekurangan masing-masing, sehingga tercipta keluarga yang harmonis,” pungkasnya.  (nak/mul)  

Komentar