Warga Perbatasan Damba Sinyal

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 378

Warga Perbatasan Damba Sinyal
ilustrasi
SINTANG, SP - Warga perbatasan di Kabupaten Sintang, sangat mendambakan adanya pembangunan tower pemancar sinyal. Keberadaan tower, diyakini bisa meningkatkan taraf hidup mereka.  

Kebutuhan akan adanya tower yang menghadirkan sinyal kuat, juga diyakini bisa membuka berbagai akses ketertinggal di perbatasan Sintang. Selama ini, masyarakat yang menggunakan berbagai sarana komunikasi, harus mengeluarkan biaya yang cukup besar, karena harus membeli pemancar sinyal.
 

“Kita terpaksa membeli penyedot sinyal, kalau ingin menggunakan telepon genggam yang kini banyak dimiliki warga. Namun, areanya tetap terbatas," ujar kepala Desa Nanga Saran, Kacamatan Ketungau Tengah, Juswardi.   Menurut Yuswardi, tidak semua warga mampu membeli alat penyedot sinyal tersebut. Di desanya, hanya ada di kantor desa. Ia pun sengaja membeli, untuk mempermudah komunikasi dengan pihak kecamatan maupun pihak terkait.  

“Warga sangat mendambakan pembangunan tower, untuk memudahkan komunikasi, karena warga sudah mampu membeli telepon genggam. Dengan adanya tower, maka kebutuhan komunikasi warganya dengan orang luar, akan lebih mudah,” paparnya.  

Diakui Yuswardi, jika usulan sudah kerap disampaikan. Selama ini, kalau masyarakat ingin berkomunikasi dengan anaknya, yang sekolah di ibukota kecamatan saja sangat sulit. Belum lagi yang ada di ibukota kabupaten atau bahkan di Jawa.    Yuswardi berharap, Pemkab segera merealisasikan fasilitas kebutuhan masyarakat perbatasan. 

Karena, sinyal seluler hanya salah satu dari banyak akses yang kini belum dibangun Pemkab. Sementara masyarakat perbatasan juga menginginkan kesempatan bisa berkomunikasi dengan lancar menggunakan telepon genggam.   

Kepala Bappeda Kabupaten Sintang, Kartiyus mengatakan, Pemerintah Pusat (Pempus), secara bertahap akan membangun tower pemancar sinyal di perbatasan. Bahkan pembangunan di sebagian desa di perbatasan sudah berjalan.   

“Jika pembangunannya sudah merata, masyarakat perbatasan bakal menikmati jangkauan sinyal seluler dengan mudah. Pembangunan tower di perbatasan dalah kebijakan nasional, untuk menghilangkan blank spot hingga 2019. Sekarang yang sudah dibangun BTS mini, namun jangkauannya hanya dua kilometer,” ujarnya. 
 

Setidaknya, kata Kartiyus, ada tujuh desa yang dapat BTS mini, antara lain di Semareh, Nanga Kelapan, Nanga Seran, dan Jelemu. Kartiyus berharap, dengan dibangun BTS mini, maka diharapkan masyarakat perbatasan bisa berkomunikasi dengan pihak luar. Minimal dengan keluarga yang tidak tinggal di perbatasan.    

"Warga Ketungau, banyak yang menyengkolahkan anak ke Jawa. Jadi komunikasi dengan anak-anak mereka bisa lebih mudah kalau sudah ada sinyal,” pungkas Kartiyus. (nak/mul)