Jarot Ingatkan Peran Kader PKK

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 388

Jarot Ingatkan Peran Kader PKK
ilustrasi
SINTANG, SP – Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Sintang, mengelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Program dan Penyuluhan (LP3). Kegiatan ini diikuti oleh para kader PKK se-Kabupaten Sintang.   Kegiatan ini dilaksanakan guna mendukung program percepatan pembangunan di Kabupaten Sintang, dan diselenggrakan di Balai Ruai, Komplek Rumah Jabatan Bupati Sintang, Senin (7/8)  

Menurut ketua PKK Kabupaten Sintang, Ny Rosinta Askiman, dengan Bimtek ini, diharapkan mampu menyamakan persepsi dalam upaya mendukung terwujudnya visi-misi Pemkan Sintang.   “Diharapkan ada persamaan persepsi, untuk meningkat pengerjaan administrasi di tingkat PKK desa,” ujarnya.   Yasinta meminta semua peserta bisa mengambil ilmu dari seluruh paparan yang disampaikan. Rangkaian kegiatan jadi upaya untuk memahami dan menerapkan ilmu yang sudah diperoleh pada tingkat kecamatan maupun desa.  

“Kita ingin kader PKK yang profesional, agar sejalan dan bisa memahami dengan betul program pemerintah,” paparnya.   Menurut Yasinta, kegiatan ini sangat penting, karena PKK adalah perpanjangan tangan untuk menyampaikan program Pemkab. Khususnya untuk keluarga dan masyarakat.   Bupati Sintang, Jarot Winarno yang membuka kegiatan tersebut, mengingatkan pentingnya peran para pengurus PKK di tengah masyarakat. Terlebih dengan kemajuan teknologi seperti saat sekarang ini, tantangan mendidik anak-anak harus benar-benar ekstra, agar mereka tidak tergerus dan bisa memproteksi diri dari hal-hal negatif.  

“Tantangan Narkoba, hedonisme, dan perilaku yang kurang baik, dipicu oleh globalisasi dan gadget. Itulah seorang ibu rumah tangga, agar mencegah perilaku negatif sejak dini,” ujarnya.
  Jika bisa mendidik dan mengawal anak-anak generasi penerus, maka Jarot yakin bonus demografi yang akan dihadapi bangsa Indonesia, tidak akan sia-sia. Namun jika gagal, maka bonus demografi terbuang percuma.  

“Adanya 64 persen masyarakat berusia produktif. Peluang tersebut juga menjadi tantangan, agar tidak jadi beban demografi, karena hanya menghasilkan anak muda yang malas bekerja,” imbuhnya. (nak/mul)