WWF Kenalkan Konsep NKT Bagi Penyuluh

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 413

WWF Kenalkan Konsep NKT Bagi Penyuluh
UKUR POHON – Seorang petani kelapa sawit tengah mengukur pohon sawit, untuk Nilai Konservasi Tinggi (NKT) di areal Desa Kenyabur Baru, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang. Penerapan NKT, sebagai upaya mencegah pembukaan lahan dan penyadartahuan akan pen
SINTANG , SP –  Pemerintah Kabupaten Sintang dan WWF-Indonesia berkolaborasi dalam hal peningkatan kapasitas penyuluh lapangan, terkait Nilai Konservasi Tinggi (NKT) di Kota Sintang, 10-12 Agustus 2017. 

Ini menjadi bagian dari upaya bersama mengenalkan konsep dan menginisiasi kelompok penyuluh penilai kawasan dengan menggunakan alat NKT.

Market Transformation Initiative Coordinator WWF-Indonesia Program Kalbar, Muhammad Munawir dalam siaran pers yang diterima Suara Pemred, Kamis (10/8) menyatakan NKT adalah salah satu alat untuk mengetahui nilai penting suatu kawasan.
“Penilaiannya berbasis pada tiga aspek, yakni lingkungan, ekonomi dan sosial budaya,” katanya.
Menurut Munawir, penilaian NKT ini sebagai upaya mencegah pembukaan lahan dan penyadartahuan akan pentingnya menjaga Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT). Salah satunya untuk kawasan perkebunan kelapa sawit.

Pembangunan kebun kelapa sawit yang tidak sesuai aturan, kata Munawir, dapat menjadi pemicu kerusakan lingkungan. Ini bisa terjadi jika perusahaan dan kebun sawit swadaya membuka kawasan yang tidak diperuntukkan bagi perkebunan kelapa sawit. Misalnya kawasan hutan, gambut dan kawasan bernilai konservasi tinggi lainnya.

Lebih jauh Munawir menjelaskan, untuk dapat mengurangi ancaman terhadap kawasan bernilai konservasi tinggi, diperlukan pengelolaan dan pemantauan yang terencana dengan baik.
 
“Melalui pelatihan ini diharapkan penyuluh lapangan dapat menjadi bagian dalam melakukan identifikasi, pengelolaan dan pemantauan KBKT di wilayah kerjanya,” ungkapnya.
 
Dia berharap, penyuluh lapangan dapat menjadi salah satu pihak yang berkontribusi dalam menyusun perencanaan pembangunan di desa. Seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMdes), Rencana Tata Ruang Desa yang berbasis pada hasil penilaian NKT, sehingga pembangunan berkelanjutan dapat diwujudkan pada skala desa.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Sintang, melalui Kepala Seksi Ketenagaan Penyuluh, Sonya Puspasari mengapresiasi kegiatan ini sebagai sebuah terobosan yang tepat.
 
“Sangat penting bagi penyuluh lapangan untuk memiliki pengetahuan NKT guna menjawab tantangan yang ada dan dapat mengurangi ancaman terhadap kelestarian lingkungan,” katanya.

Menurut Sonya, penyuluh lapangan adalah perpanjangan tangan pemerintah daerah yang keberadaannya sangat dekat dengan masyarakat. “Oleh karena itu, mengoptimalkan peran penyuluh lapangan ini merupakan langkah yang strategis,” kuncinya. (*/and)