Sintang Giatkan Kampanye Stunting

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 411

Sintang Giatkan Kampanye Stunting
Bupati Sintang, Jarot Winarno terus menggiatkan Kampanye Gizi Nasional (KGN) dalam upaya mencegah Stunting.
SINTANG, SP – Pemkab Sintang terus menggiatkan Kampanye Gizi Nasional (KGN) dalam upaya mencegah Stunting. Salah satunya adalah dengan menggelar sosialisasi Stunting, di Gedung Serbaguna Agape, Kecamatan Sungai Tebelian, beberapa waktu lalu.  

Menurut ahli gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sintang, Sigit Marto Utomo, masalah Stunting atau tinggi badan pada balita, jadi ancaman serius Bangsa Indonesia. Dilihat dari tumbuh kembang dan kondisi tinggi badan anak-anak Indonesia saat ini, yang cenderung kurang cepat.  

“Stunting merupakan suatu kondisi di mana panjang atau tinggi badan balita di bawah standar usianya. Hal ini mempengaruhi tumbuh kembang anak itu sendiri,” kata Sigit, saat dihubungi Suara Pemred, Minggu (20/8).
 

Sigit menambahkan, ketidakmampuan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan normal, bisa mengakibatkan menurunnya kecerdasan dan emosionalnya. Indonesia sendiri, papar Singit, merupakan satu dari 117 negara yang mengalami masalah gizi yang mengakibatkan Stunting ini.  

“Anak dengan masalah Stunting, pertumbuhannya terhambat. Mereka lahir dengan berat badan tidak normal. Badannya kecil dan kurus, serta daya tahannya rendah,” ujarnya.   Dijelaskan Singit, Stunting juga akan menghambat perkembangan kognitif, sehingga berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan dan menurunkan produktivitas pada usia dewasa. Kemudian menyebabkan gangguan metabolik dan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes dan hipertensi.  

Stunting ini disebabkan oleh masalah gizi kronis, yaitu kurangnya asupan gizi pada waktu yang cukup lama. Bisa juga akibat pemberian makanan tidak sesuai kebutuhan gizi. Penyebabnya lainnya adalah kurangnya pola pengasuhan, penggunaan air tidak bersih, lingkungan tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan.  

Stunting, lanjut Sigit, tidak hanya terjadi karena faktor kemiskinan, namun pada anak-anak dengan kondisi keluarga ekonomi mampu. Utamanya karena pola asuh yang kurang, di mana anak biasa dibelikan snack atau pun jenis makanan siap saji lainnya, secara terus menerus.
“Resiko Stunting mengancam satu dari lima ibu hamil. Hal itu disebabkan kurangnya energy kronik, yang berujung pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), yaitu berat badan hanya 2.500 gram atau 2,5 Kilogram,” tuturnya.  

“Lebih dari sepertiga balita Indonesia bertubuh pendek. Selain itu, satu dari delapan balita Indonesia juga kegemukan,” lanjutnya.   Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan, Pemkab fokus menangani masalah kesehatan dan gizi. Fokus ini akan dikenakan pada periode 1.000 Hari Pertama Kelahiran atau HPK. Dimulai dari usia kehamilan kurang lebih 9 bulan atau 270 hari, hingga anak usia 2 tahun atau 730 hari kehidupan pertama setelah bayi dilahirkan.

  “Harus diperhatikan. Sebab periode HPK ini merupakan tahap penting atau periode emas. Dampak yang akan ditimbulkan langsung diterima bayi,” ujar Bupati Jarot.   Usai HPK ini, lanjut Bupati Jarot, maka kebutuhan nutrisi dan gizi bagi ibu hamil sangat dianjurkan. Apa yang dikonsumsi ibu hamil, baik makanan utama atau asupan tambahan, sangat berguna bagi bayi yang dikandungnya.  

Di Kabupaten Sintang, papar Bupati Jarot, telah ditemui kasus Stunting, meskipun persentasenya di bawah angka nasional. Meski begitu, ia meminta semua pihak, tidak boleh menganggap remeh. Penurunan Stunting tidak hanya bisa dilakukan oleh Dinkes dan Pemkab saja.  

“Pendekatan multi sektor sangat penting. Semua pihak harus terlibat, mulai dari stakeholder, tokoh masyarakat, agama, dan pemerintah. Kita upayakan tidak ada Stunting di Bumi Senentang ini,” pungkasnya. (nak/mul)