Lapas Minta Pusat Rehabilitasi Narkoba

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 499

Lapas Minta Pusat Rehabilitasi Narkoba
SERAHKAN REMISI – Bupati Sintang, Jarot Winarno menyerahkan SK Remisi ke warga binaan Lapas Klas IIB Sintang. Remisi ini dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-72.
SINTANG, SP - Berbagai kendala dihadapi Lapas Klas IIB Sintang, dalam membina jumlah Nara Pidana yang terus meningkat. Mulai dari kurangnya jumlah petugas, hingga ruang tahanan yang terus over kapasitas.   Tidak hanya itu, permasalahan yang paling serius adalah Napi dan tahanan dengan kasus Narkoba yang tinggi. Kondisi ini membuat petugas kewalahan, sehingga Narkoba sering ditemui masuk ke Lapas.  

“Entah bagaimana caranya, yang jelas kerap kali saat pemeriksaan rutin, kita jumpai barang haram tersebut,” kata Kalapas Klas IIB Sintang, Pudjiono.   Menurutnya, hampir semua Lapas di Indonesia menghadapi masalah jumlah tahanan kasus Narkoba yang terus bertambah. Kondisi ini juga kerap memicu munculnya gejolak di dalam Lapas.  

“Semua Lapas di Indonesia mengalami masalah ini. Napi dan tahanan Narkoba, sering bermasalah. Lapas bergolak sejak adanya tahanan Narkoba dalam jumlah banyak,” paparnya.   Dengan keadaan ini, maka Kalapas berharap, di Sintang ada pusat rehabilitasi terhadap para tahanan dan Napi Narkoba. Sehingga, dengan tempat khusus tersebut, mereka tidak bisa berulah di Lapas umum.  

“Seharusnya tahanan san Napi kasus Narkoba tidak dibina di Lapas. Mereka membutuhkan tempat khusus, untuk pembinaan dan pendidikan,” ujar Pudjiono.   Kalapas menjelaskan, saat ini jumlah tahanan dan Napi di Lapas Klas IIB Sintang ada 462 orang. Jumlah tersebut sangat besar, mengigat daya tampung hanya 200 orang saja. Khusus blok A, diisi oleh para tahanan dengan kasus Narkoba sekitar lima kamar.  

“Kapasitas per kamar di Blok Narkoba maksimal 15 orang, namun kondisi saat ini, per kamar diisi sekitar 25-28 orang,” tandasnya.   Kadiv Permasyarakatan, Kanwil Kemenkumham Kalbar, Tholib dalam lawatannya ke Lapas Klas IIB Sintang, beberapa waktu lalu mengatakan, beberapa Lapas yang ada di Kalbar memang masuk dalam zona merah, karena memiliki jumlah tahanan dan Napi Narkoba dalam jumlah besar.  

“Tidak hanya di Sintang, melainkan juga di beberapa Lapas di Kalbar, termasuk Pontianak. Kondisi ini sangat memprihatinkan,” ujar pria yang belum lama bertugas di Kalbar ini.   Di Lapas Klas IIA Pontianak, kata Tholib, dari 800 Napi, 600 di antaranya adalah tahanan dengan kasus Narkoba. Kondisi ini, lanjutnya sangat memungkinkan para Napi berinteraksi dan bersekongkol, agar tetap memperoleh barang haram tersebut, dengan segala cara.  

Saat ini, lanjutnya, Lapas terus jadi sorotan masyarakat, selain banyaknya temuan Narkoba, tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan oknum yang bertugas di Lapas. Semua pihak yang memilki kapasitas, harus membantu menekan upaya peredaran Narkoba di Lapas.  

“Semua pihak, baik Lapas, Kepolisian, BNN, dan masyarakat. Peredaran Narkoba jadi beban berat petugas Lapas. Padahal, personel kita sangat minim,” tuturnya.   Kanwil Kemenkumham Kalbar, papar Tholib, meminta semua Lapas di Kalbar, agar terus berbenah dan memperbaiki diri, khususnya dalam pemeriksaan setiap pengunjung.  

“Harus digeledah serapi dan seteliti mungkin. Pembesuk tidak boleh membawa jaket dan sepatu, bawa badan saja. Barang-barang dititipkan ke petugas,” ujar Tholib. (nak/mul)
 

Komentar