Jarot Minta Aparat Awasi Peredaran PCC di Sintang

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 316

Jarot Minta Aparat Awasi Peredaran PCC di Sintang
Ilustrasi
SINTANG, SP – Bupati Sintang Jarot Winarno turut prihatin dengan semakin marak dan beragamnya jenis obat-obat terlarang yang sering kali dikonsumsi oleh anak-anak muda. Terlebih baru-baru ini muncul jenis obat bernama PCC yang membuat heboh masyrakat karena prilaku orang yang mengkonsumsinya.

“Pil PCC ini berbahaya karena sama dengan mengkonsumsi narkoba, bisa membuat orang yang mengkonsumsinya menjadi bertingkah aneh,” ujarnya saat ditemui usai mengresmikan lapangan futsal baru di Desa Monbai, Kecamatan Kayan Hilir, Sabtu (16/9) malam.


Hal ini dikarenakan ada pihak tertentu yang memberikan barang tersebut secara masal, maka dari itu Jarot berharap aparat Kepolisian, BNN dan BPOM bisa mengawasi dan mengantisipasi agar jangan sampai berang tersebut masuk di Kota Sintang sehingga dapat merusak generasi muda.

“Pengawasan bisa dimulai di toko-toko obat dan apotik, obat PPC ini sudah dilarang beredar. Artinya jangan sampai ada yang kedapatan menjual. Kalau ada langsung tindak saja,” tegasnya.
Sejauh ini diakui Jarot dirinya belum ada menerima laporan terkait PCC, maka dari itu dirinya  berharap jangan sampai ada kejadian PCC ini ditengah masyarakat Sintang. “Saya juga meminta masyarakat, khusunya para orang tua untuk waspada dalam hal ini,” katanya.

Jarot mengatakan orangtua harus benar-benar mengawasi anak-anaknya. Jangan sampai terjerumus dalam hal-hal negatif, karena anak-anak muda biasanya rentan dan mudah terpengaruh.
“Peran keluarga sangat penting sebagai benteng pertama untuk mendidik anak agar bisa mengetahui dan menilai mana yang baik dan tidak baik,” pungkasnya.

Sementara itu anggota DPRD Sintang, Wardoyo menilai bahwa ditengah kondisi perkembangan dan kemajuan seperti saat sekarang ini, maka tidak sulit bagi para pelaku dan penjual obat-obat terlarang untuk memasarkan barangnya.
“Apalagi di Kayan Hilir ini sedang maju-majunya. Gedung sekolah mulai banyak, demikian juga dengan para pelajar yang kian bertambah. Para pengedar obat ini biasanya menyasar kalangan pelajar yang memang masih labil,” kata pria asal Kayan Hilir ini.

Karena trend PCC terbilang baru, maka Wardoyo berharap agar BNN bisa memberi edukasi kepada masyarakat sebagai bentuk antisipasi masuknya barang tersebut ke wilayah Kabupaten Sintang. Sebab potensi penggunaan barang jenis obat terlarang selalu muncul kapan dan dimana saja.

“Anak-anak terutama remaja tanggung biasa mudah sekali untuk ikut-ikutan, biasanya mereka menganggap itu trend. Inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh para pengedar. Semoga BNN bisa memberi edukasi kepada masyarakat dan para pelajar untuk mencegah masuk barang ini,” pungkasnya. (nak/pul)