Sintang dan Melawai Bahas RPJP untuk TNBBBR

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 448

Sintang dan Melawai Bahas RPJP untuk TNBBBR
Konsultasi Publik – Kegiatan konsultasi publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional Bukit Baka dan Bukit Raya (TNBBBR) berlansung di Hotel My Home Sintang, Rabu (20/9).
SINTANG, SP - Konsultasi publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional Bukit Baka dan Bukit Raya (TNBBBR) dibahas oleh para pemangku kepentingan, guna diambil kebijakan terhadap pengelolaan kawasan tersebut pada periode 2018-2027 mendatang. Kegiatan yang berlangsung di hotel My Home Jalan Lintas Melawi kota Sintang, Rabu (20/9) ini dihadiri oleh perwakilin Pemerintah Kabupaten Sintang, Pemerintah Kabupaten Melawi dan Kepala Balai Taman TNBBBR.

Bupati Sintang melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ahmad Dharmanata mengatakan bahwa rencana pengelolaan jangka panjang TNBBBR periode 2018-2027 sangat selaras dengan wacana pembangunan pemerintah Kabupaten Sintang mengenai penataan wilayah untuk mewujudkan masyarakat Sintang yang maju dan sejahtera.

“Kawasan TNBBBR penting bagi kelangsungan hidup flora dan fauna maupun ekosistem yang ada, agar dapat mencapai tujuan ideal dari sebuah kawasan pelestarian alam. Itu sudah sejalan dengan tujuan Pemkab Sintang yang tertuang dalam enam prime mover pembangunan,” ujarnya.


Dharmanata juga mengatakan bahwa RPJP sebelumnya memang sempat dibuat untuk jangka waktu 20 tahun yakni 2010-2029. Namun sejak tahun 2011 diubah untuk jangka waktu 10 tahun dan jangka pendek satu tahun. “Dengan semakin pendeknya perencanaan, kita harapkan semakin sigap dalam menyikapi perubahan yang mempengaruhi hutan kita di kawasan taman nasional ini,” katanya.

Ia pun berharap selama kegiatan berlansung, para peserta forum dapat memberikan masukan dan saran kepada para pemangku kepentingan yang hadir dalam kesempatan tersebut. Dan menjadi ajang silahturahmi bagi semua. Sementara itu Direktur Kawasan Konservasi Hutan, Dyah Murtiningsih mengatakan bahwa hutan alam yang sangat luas dan sangat besar di seluruh dunia berada di Indonesia.

 Yang mana sebanyak tujuh juta hektar kawasan konservasi telah ditetapkan oleh pemerintah. “Dengan demikian, maka hutan konservasi memiliki 551 unit kawasan yang tersebar di wilayah Indonesia, salah satunya ialah TNBBBR yang terletak di jantung pulau Kalimantan ini,’ jelas Dyah.

Karena itu, Dyah menilai kondisi ini sudah seharusnya membuat bangsa Indonesia bangga karena memilki ragam keindahan alam yang memiliki nilai ekosistem yang luar biasa banyak dan melimpah. Ia berharap semua pihak bisa bersama-sama untuk turut menjaga dan mengelola kekayaan alam yang dimiliki untuk keberlangsungan hidup anak cucu dikemudian hari.

“Kawasan ini patut kita jaga dan kita rawat serta kelola dengan baik. Perlu adanya upaya yang sistematis untuk mengelolanya, baik itu melalui perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian. Mari kita membangun satu kesepahaman bersama untuk saling bersinergi guna menyusun dokumen dalam hal mengelola TNBBBR ini,” pungkasnya. (nak/pul)