GGD Diharapkan Naikan Rata-rata Lama Sekolah di Sintang

Sintang

Editor Tajil Atifin Dibaca : 316

GGD Diharapkan Naikan Rata-rata Lama Sekolah di Sintang
Foto Bersama - Para GGD tampak berfoto bersama bupati Sintang, Jarot Winarno usai dirinya memberi pengarahan kepada para guru yang bakal di tempatkan di wilayah 3T ini, Selasa, (3/10) sore.
SINTANG, SP - Bupati Sintang, Jarot Winarno menaruh harapan besar terhadap 261 orang Guru Garis Depan (GGD) yang bertugas di Kabupaten Sintang. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan pengarahan umum kepada GGD, Selasa (3/10) sore, bertempat di Pendopo Rumah Dinas Jabatan Bupati Sintang.

Sebagai generasi milenial yang hidup dijaman keterbukaan informasi, Jarot berharap para GGD yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini, mampu untuk melihat segala sisi kehidupan masyarakat tanpa memandang perbedaan agama, suku, adat istiadat dan budaya.

“Kalian ini generasi milenial yang hidup dijaman keterbukaan informasi, jadi saya yakin kalian mampu melihat perbedaan sebagai modal untuk menciptakan suasana keakraban,” ujarnya.
Dengan begitu dikatakan Jarot sehingga bisa saling mengenal dan menghargai, pastinya juga akan tumbuh rasa persatuan dan kesatuan serta menghasilkan jiwa yang kuat.

Jarot juga menjelaskan kepada para CPNS GGD bahwa rata-rata lama sekolah di Kabupaten berdasarkan data tahun  2016 yaitu sebesar 6,95 tahun.

“Dengan data itu, rata-rata lama sekolah penduduk terhenti di bangku kelas satu SMP. Nah dengan kehadiran CPNS GGD ini di Kabupaten Sintang kita ingin bersama-sama untuk menaikkan rata-rata lama sekolah di Kabupaten Sintang hingga mencapai angka 9 tahun  targetnya sampai tahun 2021,” katanya.


Diakhir pengarahannya kepada seluruh CPNS GGD yang akan disebar ke beberapa desa di wilayah Kabupaten Sintang, Jarot meminta agar para GGD untuk tidak takut berada di desa dan wilayah terpencil yang ada di Kabupaten Sintang.


“Masyarakat Sintang ini ramah dengan masyarakat lainnya, kita hanya perlu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Bersosialisasilah dengan masyarakat agar kalian betah ditempat tugas,” tandasnya.

Sementara itu, Halim Perdana Kusuma, salah satu CPNS GGD yang berasal dari Aceh yang mendapat jatah tugas di Desa Nanga Bayan, Kecamatan Ketungau Hulu saat ditanya mengapa dirinya tetap bertahan, dengan tegas menyatakan bahwa dirinya ingin mengabdi, sehingga ia tidak memandang di wilayah mana ia akan ditempatkan.


“Ini adalah panggilan jiwa karena saya ingin mengabdi kepada bangsa ini. Tidak ada paksaan karena semua telah saya pikirkan sebelum memutuskan mengambilnya setelah saya tahu saya lolos di Kalimantan,” ujarnya.

Meski harus meninggalkan anak dan istri demi untuk mengabdi sebagai seorang GGD, namun Halim Optimis dirinya akan mampu melewati semuanya demi sebuah tujuan mulia memajukan pendidikan.

“Saya tetap harus berfikir jernih bahwa ini dalam rangka untuk mencerdaskan anak bangsa”. Kata Halim


GGD lainnya, Mursida Marbun asal Surabaya (Jatim) mengaku belum tahu persis di mana letak desa tempat dirinya bertugas. Ia hanya tahu namanya saja sementara kondisi baik jalan maupun akses pendukung lain menuju desa tersebut belum tahu sama sekali.

“Ini adalah pertama kali saya datang ke Kabupaten Sintang untuk mengabdi di Desa Mentajoi, Kecamatan Serawai. Siap tidak siap karena ini adalah tugas yang diamantkan negara saya harus bisa,” tuturnya.

Mendidik kata Mursida adalah sebuah komitmen karena itu dirinya tetap memutuskan untuk mengambil sejak diumumkannya kelulusan. (nak/pul)