Disdikbud Sintang Mesti Jadi IPM

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 238

Disdikbud Sintang Mesti Jadi IPM
SAMBUTAN - Wakil Bupati Sintang, Askiman saat menyampaikan sambutan dalam acara Natal bersama yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Kamis (11/1). (Ist)

Natal Bersama Jangan Hanya Seremonial


Wakil Bupati Sintang, Askiman
“Kalau anak didik kita terjerumus dalam hal negatif, maka ini menjadi bentuk kegagalan kita sebagai pendidik dan orang tua"

SINTANG, SP - Wakil Bupati Sintang, Askiman mengatakan, bahwa Disdikbud adalah indikator dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dari itu Disdikbud harus dapat membentuk suatu keluarga besar pendidik yang penuh rasa kekeluargaan dan keharmonisan.

“Kita harus mencerdaskan anak-anak bangsa di Sintang, menjadi anak-anak yang memiliki masa depan, tunjukkan diri kita menjadi sebuah teladan bagi anak didik kita,” ujarnya saat menghadiri acara Natal bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, di Kantor Dinas Pendidikan, Kamis (11/1).

Saat ini kata Askiman, anak-anak menghadapi tantangan yang sangat besar, seperti narkoba dan pergaulan bebas.  “Kalau anak didik kita terjerumus dalam hal negatif, maka ini menjadi bentuk kegagalan kita sebagai pendidik dan orang tua,” imbuhnya.

Askiman meminta, agar kegiatan Natal bersama tidak hanya sekedar seremonial belaka tapi menjadi ajang untuk mengingatkan serta mengikat manusia dengan tali silaturahim, sehingga membentuk rasa kekeluargaan.

“Jika semangat kekeluargaan telah kita miliki, maka kita bisa memantapkan tujuan pembangunan lewat rasa kebersamaan,” terangnya.
Askiman juga menjelaskan, Natal mengingatkan manusia pada pribadi yang lama telah ditinggal dan jadi pribadi yang baru di tahun yang baru.

“Hendaklah kita mampu meneruskan rasa kedamaian, suka cita dan kejahteraan kepada keluarga, tetangga dan masyarakat sehingga menjadi suatu ikatan yang utuh,” bebernya.

Kalau manusia memiliki rasa damai kata Askiman, tentu rasa negatif lainnya akan tersingkir, karena itu penting jadi pribadi yang sabar. “Apabila damai kristus yang sudah memerintah dalam hati kita, saya yakin damai sukacita akan hadir di diri kita,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Lindra Azmar berharap momentum Natal mampu menjadikan diri sebagai pribadi yang amanah dalam mengemban tugas, memajukan pendidikan di Sintang. Kemajuan dalam bidang pendidikan bisa menjadi icon pembangunan di Bumi Senentang.

“Untuk dapat menjadi ujung tombak pembangunan, Disdikbud membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, aspek jumlah dan kualitas serta sebaran harus mencukupi,” kata Lindra. 

Selain itu, terbangunnya sistem dan tata kelola pendidikan yang profesional dan akuntabel, juga pengelolaan anggaran pendidikan yang efektif dan efisien serta optimal menjadi penting, sebagai ujung tombak pembangunan.

“Hal-hal tersebut terus kita wujudkan, kita berusaha bersinergi dengan perangkat daerah lain yang terkait. Saya mengajak semua bekerja lebih cermat, terukur dan lebih maksimal, sehingga kualitas pendidikan di wilayah kita semakin jadi lebih baik,” terangnya.

Pada acara tersebut, berbagai atraksi seni dipertontonkan. Acara ini dihadiri lebih dari 500 orang staf Disdikbud dan guru-guru serta siswa-siswi dari berbagai sekolah yang ada di Kota Sintang, dan beberapa guru-guru dari daerah.
 

Harus Ada Kemajuan


Perayaan Natal yang meriah tidak hanya memberikan kesenangan sesaat, diharapkan juga dapat menebar harapan-harapan baik bagi banyak pihak. Termasuk pada saat perayaan Natal keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Kamis (11/1).

Kepala Sekolah SDN 14, Agusnani menyampaikan, harapannya supaya ada kemajuan yang lebih daripada tahun sebelumnya di lingkungan Disdikbud Sintang. Menurutnya kemajuan itu hendaknya terjadi di berbagai aspek.

“kemajuannya baik itu dari segi para pendidik maupun dari segi pemerintahnya. Jangan hanya menuntut para pendidik supaya aktif dalam mencerdaskan anak bangsa, namun dari pemerintah juga memperhatikan dari segala bidang dan segala sisi pendidikan,” terangnya.

Ia menambahkan, selama ini banyak kendala bagi para pendidik. Maka dari itu jangan hanya berorientasi pada sekolah yang sudah lengkap yang ada di perkotaan. Namun berorientasi juga dengan segala keterbasan sarana prasarana, tenaga pendidik di pedalaman.

“Pemerintah juga bisa memperhatikan hal-hal tersebut. Tidak sih mempermasalahkan tentang tuntutan kemajuan, namun kita harus melihat segala sisi,” pungkasnya. (nak/pul)