Demam Berdarah Ancam Sintang

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 236

Demam Berdarah Ancam Sintang
TERBARING - Seorang balita penderita DBD tampak terbaring lemah disalah satu ruang perawatan Rumah Sakit Ade M. Djoen, beberapa waktu lalu. Kasus DBD terus mengancam Sintang dari tahun 2017 hingga 2018. (Dok SP)

Satu Orang Meninggal Dunia di 2018


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh
"Di tahun ini, kasus DBD sudah menyebar di Kecamatan Sintang,  Sungai Tebelian, Sepauk, Tempunak, Dedai, Binjai Hilir dan Ketungau Hilir"

SINTANG, SP - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh mengungkapkan, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) untuk tahun 2018 telah menelan korban jiwa, seorang anak berusia 7 tahun, warga Akcaya 1 Kecamatan Sintang meninggal dunia. 

"Penyebaran penyakit DBD belum berhenti. Masyarakat saya minta jangan lengah, harus terus waspada," ujar Sinto ditemui Suara Pemred, Rabu (31/1).

Dijelaskan Sinto, kasus DBD memang marak sejak tahun 2017 lalu, yang mana ada sebanyak 302 kasus DBD, dengan satu orang meninggal. Di Januari 2018, sudah ada 20 kasus DBD dengan satu anak meninggal dunia, pada Senin (29/1).

"Di tahun ini, kasus DBD sudah menyebar di Kecamatan Sintang,  Sungai Tebelian, Sepauk, Tempunak, Dedai, Binjai Hilir dan Ketungau Hilir," bebernya.

Sinto mengingatkan, masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya, agar penyebaran nyamuk penyebab DBD dapat dicegah. Sebab DBD akan tetap ada selama nyamuk tak diberantas. Untuk memberantas penyakit tersebut, caranya hanya dengan memberantas sarangnya.

"Jaga kebersihan lingkungan, tempat penampungan air dibersihkan dan ditabur abate. Masyarakat dapat meminta abate di Puskesmas terdekat," jelasnya.

Senada juga disampaikan Bupati Sintang, Jarot Winarno meminta seluruh masyarakat Bumi Senentang untuk waspada dan mencegah kasus DBD yang semakin meningkat.

"Fasilitas kesehatan sudah siap dalam hal obat-obatan dan tenaga medis. RSUD pun sudah siap dalam penanganan kasus DBD," kata Jarot.

Seluruh Puskesmas diminta Jarot, harus siaga untuk mencegah penyebaran DBD. Lakukan fogging dan sebar abate, bahkan dirinya telah perintahkan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk berupaya keras mencegah dan menanggulangi kasus DBD.

"Sudah adanya korban meninggal dalam kasus DBD tidak bisa dianggap remeh. Seluruh Puskesmas sudah diperintahkan untuk siaga dan cepat tanggap terhadap kasus ini,” terangnya.

Jarot mengatakan, Dinkes melalui Puskesmas harus terus memaksimalkan peran petugas kesehatan. Masyarakat juga harus menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan masing-masing.

"Semua harus berperan serta dalam memberantas ini, demi terjaganya hidup sehat kita bersama,” terangnya.

Anggota DPRD Sintang, Anton juga mengajak masyarakat untuk mewaspadai penyebaran kasus DBD. Pemkab Sintang dimintanya melakukan langkah efektif agar DBD tidak menyebar luas dan menelan korban jiwa lagi.

"Dinkes harus turun sosialisasi ke masyarakat, tentang ciri-ciri penyakit DBD, sehingga masyarakat sadar dan cepat membawa berobat jika ada keluarganya terkena DBD. Jangan sampai terlambat dalam memberikan pertolongan pada penderita DBD," pungkasnya.

Bentuk Kelompok Pemberantas


TOKOH pemuda Masuka Sintang, Ardianto menyarankan, agar Dinkes memfasilitasi setiap RW untuk membentuk kelompok pemberantasan sarang nyamuk, dengan membersihkan lingkungan di RW masing-masing.

"Dengan adanya itu otomatis setiap lingkungan tidak perlu khawatir lagi, sebab sudah ada kelompok pemberantas sarang nyamuk tersebut," ujarnya.

Menurut Ardianto, pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan secara berkelompok di masyarakat akan efektif, sebab kelompok di setiap RW ini bertugas membersihkan lingkungannya, termasuk menaburkan abate ke rumah-rumah.

"Dinkes sebaiknya memberikan pengetahuan pada kelompok yang dibentuk di setiap RW ini,  tentang bagaimana pencegahan penyebaran DBD," sarannya. (tra/pul)