Dua SMAN Terancam Gagal Laksanakan UNBK, Terkendala Akses Sinyal Internet

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 180

Dua SMAN Terancam Gagal Laksanakan UNBK, Terkendala Akses Sinyal Internet
TINJAU UNBK – Bupati Sintang, Jarot Winarno meninjau pelaksanaan UNBK hari pertama, Senin (9/4). Berbagai kendala masih menghantui pelaksanaan UNBK di Sintang, salah satunya minimnya ketersediaan perangkat komputer dan ketidaktersediaan sinyal internet. (
Kadisdikbud Kabupaten Sintang, Lindra Azmar
"Kami belum dapat informasi lagi, apakah sekolah itu bisa melaksanakan UNBK hari ini atau terpaksa mengikuti UNBK susulan"

SINTANG, SP – Dua Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) dikabarkan gagal melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di hari pertama pelaksanaan, Senin (9/4). Pasalnya sinyal internet untuk mengakses soal ujian di sekolah tersebut tidak tersedia.

Dua SMAN yang mengalami kendala tersebut adalah SMAN 1 Senaning, Kecamatan Ketungau Hulu dan SMAN 1 Ambalau.

Kenyataan ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (kadisdikbud) Kabupaten Sintang, Lindra Azmar usai dirinya meninjau pelaksanaan UNBK. 

Dikatakan Lindra, seharusnya SMAN 1 Senaning dapat melaksanakan UNBK, namun tiba-tiba pagi hari saat UNBK akan dilaksanakan sinyal internet tidak tersedia hingga siang hari.

“Kami belum dapat informasi lagi, apakah sekolah itu bisa melaksanakan UNBK hari ini atau terpaksa mengikuti UNBK susulan,” katanya.

Sadangkan di SMAN 1 Ambalau, menurut Lindra, meskipun sinyal internet di sana tersedia, namun jaringan internet di sekolah itu sangat lambat.

“Sinyal di Ambalau lemot, sehingga UNBK terganggu. Tapi kami belum tahu, apakah SMA 1 Ambalau masih bisa melanjutkan pelaksanaan UNBK atau tidak. Sampai sekarang kami belum dapat informasi lagi,” katanya.

Sementara itu, pelaksanaan UNBK di Kota Sintang berjalan lancar dan aman. Lindra mengaku, masih menunggu laporan resmi dari SMAN Senaning dan SMAN Ambalau, apakah mereka gagal sama sekali dalam melaksanakan UNBK di hari pertama. 

Padahal, lanjut Lindra, saat ujicoba UNBK. Pelaksanaan UNBK di SMAN Senaning dan Ambalau berjalan lancar. “Ini faktor alam, karena Sintang dalam kondisi mendung,” katanya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA se-Kabupaten Sintang, Ensawing menilai, pelaksanaan UNBK SMA/MA di Kabupaten Sintang terkesan sangat dipaksakan. Ensawing mengungkapkan ketidaksiapan UNBK tingkat SMA/MA ini. Dia mengatakan, tahun ini sebanyak 32 SMA Negeri dan Swasta se-Kabupaten Sintang wajib melaksanakan UNBK. Tahun lalu, hanya 12 SMA yang melaksanakan UNBK.

“Tahun ini, sebenarnya banyak SMA yang belum siap melaksanakan UNBK. Tapi terpaksa melaksanakan karena Pemprov Kalbar mewajibkan seluruh SMA melaksanakan UNBK,” katanya.

Dia mengatakan, banyak SMA yang mengeluh. Karena mereka sebenarnya belum siap melaksanakan UNBK. Se-Kabupaten Sintang, hanya ada 12 SMA yang sudah mandiri dalam melaksanakan UNBK. Rata-rata adalah SMA di kota. Sementara SMA-SMA di kecamatan, melaksanakan UNBK harus menumpang di SMK terdekat.

“Kasihan SMA-SMA di kecamatan. Mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk melaksanakan UNBK. Sebab mereka harus menumpang di SMK terdekat,” katanya.

Masih kata Ensawing, para siswa SMA juga harus menginap di SMK tempat mereka mengikuti UNBK. Para siswa juga harus mengeluarkan biaya yang besar. “Banyak Kepsek yang mengeluh. Tapi apa boleh buat, demi menyelamatkan anak bangsa. Berapa pun biaya untuk pelaksanaan UNBK, akhirnya harus dikeluarkan juga,” ungkapnya.

Desak Lengkapi Sarana UNBK

Anggota DPRD Sintang, Anton menilai, gagalnya SMA 1 Senaning dalam melaksanakan UNBK merupakan bukti UNBK memang dipaksakan.

“Persoalan di daerah pedalaman itu sama. Yakni, susah sinyal dan tidak memiliki komputer. Sekarang terbukti, UNBK akhirnya gagal di Senaning,” kata dia.

Harusnya, menurut Anton, pemerintah mempersiapkan terlebih dahulu sarana prasarana pendukung sebelum melaksanakan UNBK serentak se Indonesia. Ia mendesak pemerintah harus segera melengkapi kebutuhan komputer bagi sekolah, untuk melaksanakan UNBK.

Dia mengaku prihatin, dengan kondisi sekolah yang dipaksakan melaksanakan UNBK, tapi tidak dilengkapi sarana prasarananya.

“Kasihan guru dan siswa yang harus numpang ke sekolah lain untuk mengikuti UNBK,” katanya.

Menurut Anton, pemerintah memang harus lebih meningkatkan kepeduliannya pada sektor pendidikan. Jika pemerintah ingin pendidikan di negeri ini maju, sarana prasarananya harus dilengkapi.

“Sekolah-sekolah di pedalaman, sangat minim sekali sarana prasarananya. Sementara sekolah di pedalaman juga dituntut untuk mengikuti standar nasional dalam melaksanakan pendidikan. Inikan pekerjaan berat,” katanya. (tra/jee)