Polres Ringkus Belasan Pekerja PETI, Sejumlah Peralatan Tambang Turut Diamankan

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 311

Polres Ringkus Belasan Pekerja PETI, Sejumlah Peralatan Tambang Turut Diamankan
BARANG BUKTI – Barang bukti peralatan tambang yang digunakan untuk aktivitas pertambangan ilegal diangkut ke atas truk polisi saat dilakukan razia PETI Kapuas 2018 di Kabupaten Sintang. Belasan pekerja tambang juga turut diamankan dalam operasi tersebut.
Kapolres Sintang, AKBP Sudarmin
"Sampai hari ini, ada empat lokasi PETI yang dirazia, di antaranya di Kecamatan Sintang dan Ketungau Tengah"

SINTANG, SP - Belasan pekerja penambangan emas tanpa izin (PETI) diamankan Satuan Reskrim Polres Sintang di dua lokasi penambangan berbeda, saat dilakukan operasi PETI Kapuas 2018, Selasa (10/4).

Dalam pelaksanaan operasi, dikatakan Kasar Reskrim Polres Sintang, AKP Eko Mardianto, sejumlah wilayah yang diduga dijadikan aktivitas PETI di susuri oleh 30 personil kepolisian.

Mereka bergerak menyasar lokasi PETI di Sungai Nenak Tembulan, Dusun Baning Kota, Kecamatan Sintang. Di sana polisi mengamankan sejumlah barang  bukti yang diduga dijadikan alat pertambangan seperti mesin diesel 25 HP, mesin POM air, potongan paralon dan potongan selang spiral.

“Di lokasi ini kami mengamankan 10 pekerja PETI.” kata Eko.

Dari sana, polisi kemudian melanjutkan razia di Dusun Nenak Tembulan, Desa Martiguna Kecamatan Sintang. Seperti di lokasi sebelumnya, polisi juga menemukan adanya aktivitas pertambangan ilegal. Sejumlah barang bukti berupa mesin jet pump, pipa paralon diameter 5 inch, pipa spiral warna biru diameter 5 inch, mesin jet pump kecil dan pipa paralon, bak penampung material serta keset kaki beserta tujuh pekerja PETI turut diamankan.

“Selain itu kita juga mengamankan barang bukti  lain di antaranya sejumlah mesin donfeng, pump sedot, selang spiral,” jelasnya.

Pasal yang dilanggar para pekerja PETI ini yakni pasal 158 UU RI No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara Jo Pasal 55 KUHP.

Kapolres Sintang, AKBP Sudarmin mengatakan, operasi PETI akan digelar selama 14 hari mulai 10 April lalu. Operasi PETI ini berlangsung di seluruh wilayah Polda Kalbar, termasuk Polres Sintang. 

“Sampai hari ini, ada empat lokasi PETI yang dirazia, di antaranya di Kecamatan Sintang dan Ketungau Tengah,” katanya.

Sudarmin mengungkapkan, semua pekerja PETI yang diamankan masih dalam proses pemeriksaan untuk menetapkan siapa saja yang akan dijadikan tersangka. “Kami akan melakukan gelar perkara untuk tentukan siapa saja yang bisa dijadikan tersangka,” katanya.

Pertimbangkan Aspek Kemanusiaan

Kapolres Sintang, AKBP Sudarmin menegaskan pihaknya tidak akan pandang bulu dalam penegakan hukum pelaku PETI.

“Kita sudah buktikan mulai dari bandar besar sampai pekerja akan kita proses. Setiap yang ditemukan barang bukti melakukan aktivitas PETI sampai pengepul dan bandar akan diproses,” tegasnya. 

Terpisah, Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan, proses hukum terhadap pelaku PETI tetap harus dilakukan. Hanya saja, kata Jarot, proses hukum juga harus melihat aspek kemanusiaan.

“Mereka yang bekerja di eks Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) sementara, yang dulunya pernah diterbitkan tapi sekarang tidak boleh, sebaiknya tidak diproses. Kalau hanya pekerjanya sebaiknya tidak diproses. Mungkin pemilik terutama tokenya, silakan diproses,” katanya.

Jarot mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan Provinsi Kalbar untuk meminta menerbitkan WPR bagi penambang. Karena menerbitkan WPR sekarang sudah menjadi kewenangan pemprov.

“Kita pemkab hanya memberikan rekomendasi wilayah mana saja yang bisa dijadikan WPR sementara,” katanya. (tra/jee)