Lagi, Polisi Tangkap Mucikari di Sintang, Diungkap Melalui Bee Talk dan Whats App

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 82

Lagi, Polisi Tangkap Mucikari di Sintang, Diungkap Melalui Bee Talk dan Whats App
Ilustrasi. (Net)
Kasat Reskrim Polres Sintang, AKP Eko Mardianto
"Setelah terjadi kesepakatan antara pembeli dan mucikari, maka korban dibawa ke hotel yang ditentukan. Untuk satu wanita disepakati dengan harga Rp900 ribu sekali kencan."

SINTANG, SP - Polres Sintang kembali meringkus mucikari di daerah ini. Kali ini, polisi meringkus seorang mucikari berinisial SE (23), yang menyediakan wanita untuk diajak berkencan. Penangkapan mucikari SE dilakukan melalui penyamaran anggota Satreskrim Polres Sintang. 

Kasat Reskrim Polres Sintang, AKP Eko Mardianto menerangkan, SE ditangkap bersama satu orang korban (PSK) di Penginapan 366 Masuka Guest House Sintang, kamar nomor 12. Penangkapan terhadap SE bermula dari informasi warga bahwa ada transainksi mucikari di Kota Sintang. 

Berdasarkan informasi ini, anggota Satreskrim Polres Sintang langsung melakukan penangkapan terhadap mucikari ini, setelah melakukan transaksi dengan pembeli yang merupakan anggota sedang menyamar.

“Setelah terjadi kesepakatan antara pembeli dan mucikari, maka korban dibawa ke hotel yang ditentukan. Untuk satu wanita disepakati dengan harga Rp900 ribu sekali kencan,” jelas Eko Mardianto Rabu, (23/5).

Dikatakan Eko, dengan tertangkapnya SE sebagai mucikari, maka di tahun 2018 ini, sudah ada dua mucikari di Kota Sintang yang ditangkap. Sebelumnya Satuan Cyber Reskrim Polres Sintang menangkap pelaku germo bisnis prostitusi online di Sintang inisial AN, warga Gandis, Kecamatan Dedai, pada Senin (8/1) malam.

AKP Eko Mardianto mengatakan, pengungkapan kasus ini melalui ID Bee Talk dan Whats App (WA). Modusnya, AN menawarkan sejumlah perempuan muda melalui aplikasi Bee Talk dan WA pada sejumlah pelangggan.

“Sebelum melakukan penangkapan, kami sudah inventarisir sejumlah foto-foto wanita yang ditawarkan germo tersebut. Mulai dari pelajar SMA hingga mahasiswi, dengan pasaran Rp700 ribu,” jelas Eko Mardianto.

Eko mengatakan, timnya  melakukan penangkapan tersangka AN dengan cara monitoring undercover, yaitu memesan wanita pada tsk di sebuah hotel di kawasan Sungai Durian Sintang.

“Informan kita melakukan transaksi. Setelah itu tim kami langsung menangkap AN. Untuk kasus AN ini, sekarang sudah tahap II, dan sudah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Sintang," pungkasnya.
 
Terpisah, Ketua Komisi C DPRD Sintang, Tuah Mangasih sangat mendukung kepolisian untuk terus membongkar kasus-kasus prostitusi di Sintang. Karena, korban dari prostitusi ini tidak hanya orang dewasa tapi juga ada dari kalangan pelajar. Dia mengaku mencemaskan semakin banyaknya tempat hiburan malam di Kota Sintang. Tuah sangat khawatir tempat hiburan malam bisa mengancam terjerumusnya generasi muda, terutama pelajar pada pergaulan bebas.

"Masalah sosial yang dihadapi anak muda Sintang saat ini menjamurnya THM," ujar Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Sintang, Tuah Mangasih.Menurut Tuah, THM dapat memicu terjerumusnya generasi muda pada pergaulan bebas, mengingat anak muda masih memiliki pemikiran yang labil. "Saya rasa itu tanggung jawab kita bersama, tidak hanya orangtua melainkan juga pemerintah dan lingkungan masyarakat," tegas Tuah.

Dikatakan Tuah, agama manapun pasti menentang kehidupan dunia malam yang dapat mengorbankan iman seseorang. Dirinya meminta pemerintah dan pihak terkait dapat melakukan langkah, baik penertiban dan pembinaan.

"Penertiban memang pernah dilakukan namun belum efektif dan belum tepat sasaran," jelasnya.

Menurut Tuah, solusi terbaik yaitu pemerintah mesti segera menyediakan sebuah wadah yang bisa dijadikan tempat anak muda menyalurkan bakat dan kreativitas. Ia  meminta, agar ada ketegasan pemerintah dalam mengatur THM, selain penertiban mesti dilakukan pembinaan.

"Bisa diberikan pembinaan yang wajib diikuti, misalnya empat kali dalam sebulan dengan batas waktu yang ditentukan sebagai sanksi moral," katanya.

Tertibkan Pelajar Nongkrong di THM

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Yustinus mengatakan, penertiban pelajar yang suka nongkrong di Tempat Hiburan Malam, bukan menjadi kewenangan Disdikbud lagi.

"Sesuai Perbup Sintang tahun 2015, pelaksanaan penertiban itu menjadi tugas Satpol PP. Dalam pelaksanaannya nanti, barulah melibatkan dinas pendidikan,” katanya.

Menurut Yustinus, sudah saatnya Satpol PP kembali melaksanakan penertiban pelajar yang nongkrong di THM. (tra/jek)