Penambang Ilegal, Emas Mengalir di Kapuas

Sintang

Editor Angga Haksoro Dibaca : 804

Penambang Ilegal, Emas Mengalir di Kapuas
Sintang, SP – Siang itu, Senin (1/10) kami menelusuri hulu Sungai Kapuas. Mengendarai speedboat berkecepatan sedang, perjalanan kami mulai dari Dermaga Saka Tiga. Sisa kebakaran rumah dinas Bupati Sintang masih jelas terlihat.  

Gerimis menemani kami sepanjang perjalanan. Basah. Tapi semua terbayarkan dengan pemandangan yang indah selama perjalanan di sungai terpanjang di Indonesia itu.  

Sekitar 10 menit perahu membelah sungai, indahnya pemandangan terganggu puluhan lanting-lanting penambang emas ilegal yang berjajar di sepanjang sungai.   “Ini die yang pernah aku ceritekan. Penambang emas ilegal masih marak di Sintang,”  kata salah seorang rekan wartawan yang ikut dalam perjalanan.  

Pemandangan seperti ini menimbulkan pertanyaan besar. Kenapa aktivitas penambangan emas ilegal seolah dibiarkan. Padahal jelas kegiatan itu melanggar hukum.  

Rasanya juga tidak mungkin, kalau aparat di Bumi Senentang tidak mengetahui kegiatan ilegal ini. Jaraknya hanya 20 menit perjalanan kapal cepat menuju hulu sungai.   

Penasaran, kami mencari informasi soal lanting-lanting penambang emas ilegal itu. Kali ini kami lewat jalan darat menuju Desa Simba Raya, salah satu lokasi penambangan emas ilegal.  

Menempuh 1,5 jam perjalanan kami tiba dilokasi. Lanting-lanting kami foto dari kejauhan.  

“Jangan Tanya. Ini sudah cukup lama. Jumlahnya lebih 300 set di aliran Sungai Kapuas dan Melawi,” kata warga yang menolak menyebutkan nama.    

Menurut dia, aktifitas penambangan emas ilegal ada di hampir sepanjang Sungai Kapuas dan Melawi. “Aktifitas ini sampai ke sungai Ringin. Kapuas semua ditutup jalurnya oleh aktifitas ini.”  

Polisi Perairan dan Udara (Polairud) yang melakukan patroli di sungai juga mengetahui kegiatan ini. Hanya saja itu sekedar patroli biasa saja.   “Hanya sekedar melihat dan lewat. Tidak ada penindakan. Lagi pula patroli juga yang dukung aktifitas ini bagaimanalah. Ya mungkin ada setoran gitu,” katanya.  

Kami terus menggali informasi. Kali ini berkunjung ke kantor Desa Simba Raya. Sekira pukul 14.00 WIB, Sugianto, Kepala Desa Simba Raya masih ada ditempat.   Ditanya soal penambangan emas ilegal, Sugianto tak sungkan menjawab.   

“Jadi memang masa transisi itu dimanfaatkan para penambang emas ini. Padahal sebelumnya sudah ada larangan mengenai penambangan emas ilegal,” kata Kades yang baru dilantik 26 September 2018 lalu.  

Tahun 2015 Desa Simba Raya mengeluarkan keputusan melarang aktifitas penambangan liar di Sungai Kapuas. Aturan itu masih berlaku hingga saat ini.  

“Kebetulan hari ini, kami baru selesai memanggil dan berkoordinasi dengan pihak penambang untuk mencari solusi,” kata Sugianto.  

Dia binggung, kenapa penambang masih bisa bekerja. Siapa yang melindungi sehingga berani melakukan itu. “Kami juga binggung, sebenarnya ini ada apa,” ujar Sugianto.  

Dalam rapat tersebut pihak desa mememinta penambang ilegal menertibkan diri. Tapi jawaban penambang membuat Sugianto kebinggungan.  

“Mereka bilang bagaimana di desa lain yang juga banyak penambang emas liar. Tempat lain kok tidak ada larangan dari pemerintah,” kata Kades menirukan jawaban penambang.  

Menurut Sugianto, pemilik lanting-lanting tersebut bukan warganya. Mereka warga desa tetangga yang menampung pekerja  dari desa setempat.  

“Jawaban pekerja membuat kita tambah binggung. Mereka bilang, kalau siap kasih makan mereka siap berhenti. Saya binggung bagaimana solusinya setelah dapat jawaban begitu.”  

Menurut Sugianto, tidak mungkin polisi tak mengetahui aktifitas penambangan. “Mereka melihat kondisi ini. Apalagi sudah pernah masuk media. Pol Air pastinya sudah tau, tapi kenapa barang masih dibiarkan.”  

Ada sekitar 30 lanting-lanting penambangan emas di Desa Simba Raya. Tapi jumlah pemiliknya kurang dari itu. Satu orang bisa memiliki 2 hingga 3 set lanting.  

Rayendra, aktivis Sintang Freshwater Care mengatakan aktivitas penambangan emas ilegal semakin marak, terutama di aliran Sungai Kapuas yang melewati Kecamatan Binjai Hulu.  

Desa Simba Raya menurutnya menjadi yang terbanyak di kecamatan tersebut. Selebihnya ada di Desa Ampar Bedang dan Mensiku. Ada pula di beberapa titik di Kecamatan Sintang dan Kelam Permai.  

“Jumlahnya ada yang puluhan di setiap titik. Pantauan itu kami lakukan sekitar seminggu yang lalu,” katanya, Jumat lalu.  

Meski kebanyakan penambang beralasan tidak memiliki pekerjaan lain selain bekerja di penambangan emas, menurut Rayendra alasan itu tidak bisa diterima. Sebab aktivitas yang mereka lakukan merugikan orang banyak.

“Jumlah pekerja itu sedikit, tidak mungkin mengorbankan banyak orang hanya untuk segelintir orang saja,” katanya.   Menurut Rayendra, sudah pasti sungai tercemar. Pekerja yang kesehariannya hidup di sungai sebagai nelayan juga akan dirugikan, karena spesies ikan berkurang.  

"Yang paling parah dampak ke depan. Mengakibatkan sungai beracun. Karena efek dari mengangkatnya lumpur dari sungai itu akan mengendap di muara. Dan bercampur dengan zat lain sehingga menimbulkan racun," katanya.  

Dia khawatir, akibat penambangan emas ilegal akan berdampak pemusnahan masyarakat di bantaran sungai.   “Kekecewaan kami, berhadapan dengan masalah penambangan emas ilegal selalu mentok. Alasannya sebagai mata pencaharian. Ada kepentingan pihak di belakang. Pekerja di lapangan itu mereka dibayar. Yang nikmati orang yang dibelakang,” ujar Rayendra.  

“Kalau mau ditegakan, tegakan habis. Jangan kasih ampun.”   

Ada juga sekelompok masyarakat yang bermata pencaharian nelayan mengeluhkan soal kondisi air. Ikan mati karena air beracun.  

“Kami harap tidak ada keraguan pemerintah untuk ini. Tidak ada lagi pembodohan masyarakat. Kami sangat kecewa tidak ada tindakan tegak,” kata Rayendra.  

Rayendra mendukung program zero ilegal yang pernah digaungkan Kapolda Kalbar. “Kalau bisa zero itu luar biasa. Program itu bagus, tapi buktikan. Kami harap itu konkrit. Saya tahu ada kepentingan orang-orang tertentu. Ini yang harus ditindak tegas.” (Pul)