Senin, 17 Februari 2020


Jarot Terima Kunjungan Kementerian LHK

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 69
Jarot Terima Kunjungan Kementerian LHK

DIALOG - Bupati Sintang, Jarot Winarno menerima kunjungan kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sekaligus berdialog bersama masyarakat yang ada di Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, kemarin.

SINTANG, SP - Bupati Sintang, Jarot Winarno menerima kunjungan kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sekaligus berdialog bersama masyarakat yang ada di Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, terkait konservasi hutan dan lingkungan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Rumah Betang Panjang, kemarin.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Head Of Environment Unit United Nations Development Programme (UNDP), Direktur Kalimantan Forest. 

Dalam arahannya, Jarot mengatakan bahwa pembangunan yang berkelanjutan ialah pembangunan yang seimbang. 

“Seimbang artinya, di mana pelestarian lingkungan dengan kehidupan ekonomi masyarakat itu seimbang, dan dapat pengakuan terhadap adat dan budaya yang ada”, kata Jarot. 

Menurutnya, di Kabupaten Sintang masih banyak hutan yang berada di luar kawasan hutan. 

“Kita sadari, saat ini kita sedang fokus menjaga sisa hutan yang berada di kawasan yang bukan hutan, sekitar 61.000 hektare itu merupakan hutan di luar kawasan hutan,” ujarnya. 

Hal tersebut, kata dia, menjadi pengalaman bagi pihaknya untuk melestarikan lingkungan serta menjaga hutannya, agar tidak diambil oleh perusahaan-perusahaan, dan mengutamakan kelestarian di kawasan hutan. 

Jarot mencontohkan, salah satu desa di Kabupaten Sintang yang menjaga hutannya, yakni Desa Sepulut, Kecamatan Sepauk. Menurutnya, masyarakat di Sepulut ada yang ingin membuat ecotourism. 

Begitu pula dengan masyarakat di Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, yang menjaga kekayaan tanaman sumber pewarna alami untuk tenun ikat. 

“Kemudian, ada beberapa desa kalau hutan gundul, kita tanam kembali. Tak lupa pula, Desa Ensaid Panjang ini merupakan desa yang seimbang antara adat, ekonomi, dan pelestarian lingkungan. Sehingga, desa-desa lain bisa mencontoh kepada masyarakat Desa Ensaid Panjang ini,” ungkapnya. 

Jarot mengaku bangga dengan masyarakat di Kabupaten Sintang, yang sadar dalam menjaga dan melestarikan hutan yang ada di sekitarnya. 

“Seperti contoh, di Kecamatan Kelam Permai ini ada tiga bukit, yakni Bukit Kelam, Bukit Luit, dan Bukit Rentap. Di antara ketiga bukit tersebut, ada satu taman wisata alam dinaungi oleh BKSDA. Kemudian ada hutan lingun, ada kawasan lindungnya, disela-sela kawasan lindung, ada upaya masyarakat untuk menjaga supaya tetap menjadi hutan,” paparnya. (hms/lha)

Dorong Semua Pihak Jaga Lingkungan

Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Yuyu Rahayu, menjelaskan tugas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

“Kami dari Kementerian LHK, mendorong semua pihak untuk menjaga lingkungannya masing-masing, baik itu yang di luar kawasan hutan maupun yang masuk dalam kawasan hutan,” tuturnya. 

Karena, lanjut dia, lingkungan itu sangat penting dan harus seimbang. Pembangunan boleh maju, tetapi lingkungan harus terjaga. Ekonomi boleh maju, tetapi lingkungan juga harus terjaga. Hal itulah yang menjadi tugas Kementerian LHK.

Selain itu, Yuyu menyampaikan bahwa kebijakan Kementerian LHK ialah melindungi lingkungan. 

“Salah satu kebijakan LHK adalah bagaimana melindungi lingkungan agar tetap bagus serta memelihara lingkungan hutan. Kita belajar dari perjalanan, kita dituntut untuk seimbang,” katanya.

Menurut Yuyu, hal tersebut berarti antara pembangunan harus memperhatikan lingkungan. Kalau tidak memperhatikan lingkungan, maka akan mendapatkan risikonya, seperti bencana ekosistem atau bencana alam.

Masih kata Yuyu, membuat karakter masyarakat yang cinta lingkungan harus dipupuk dari budayanya. 

“Kemajuan seseorang tidak dinilai dari sejahtera, tetapi dinilai dari budayanya. Dan, inilah contoh bagaimana memelihara budaya yang nantinya akan berkembang dan berdampak positif bagi kelestarian lingkungan, diimbangi dengan pola keseimbangan antara kelestarian dan kehidupan,” terangnya. (hms/lha)