Senin, 17 Februari 2020


Pemkab Dukung Masyarakat Jaga Hutan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 47
Pemkab Dukung Masyarakat Jaga Hutan

SEMINAR - Bupati Sintang, Jarot Winarno, memberikan materi dan sekaligus membuka acara Seminar Nasional Kehutanan tahun 2020 di Kabupaten Sintang, yang di laksanakan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Kapuas Sintang, di Aula Pendopo Bupati Sintang, kema

SINTANG, SP - Bupati Sintang, Jarot Winarno, memberikan materi dan sekaligus membuka acara Seminar Nasional Kehutanan tahun 2020 di Kabupaten Sintang yang mengusung tema "Pengelolaan Hutan Lestari Berbasis Industrialisasi 4.0", yang di laksanakan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Kapuas Sintang, di Aula Pendopo Bupati Sintang, kemarin.

Jarot menyampaikan bahwa menurut SK Menhut 733, Kabupaten Sintang yang memiliki luas 2,1 juta hektare, kawasan hutannya adalah 1,2 juta hektare, terakhir di hitung oleh WWF, di mana dihitung dari Nilai Koservasi Tinggi (NKT) 1 sampai NKT 6.

Final dari hitungan dari WWF tersebut, yang sedang Pemkab pelajari, bahwa dari 1,2 juta hektare kawasan hutan, sekarang ini tersisa 970-an ribu hektare.

“Adanya illegal logging, belum adanya konformitas antara adat lokal dengan konsep kita soal hutan. Dengan adanya 41 desa yang masih di dalam kawasan hutan, alhamdulillah itu kita masih bisa mempertahankan 900 lebih kawasan hutan forest cover yang masih berhutan. Ini terbagi dua, 870-an itu di dalam kawasan hutan kemudian sisanya kurang lebih 61 ribu di luar kawasan hutan tetapi masih berhutan,” ungkap Jarot.

Jarot melanjutkan, kemudian dibagi mana NKT kelola dan mana NKT nonkelola, yakni taman nasional, hutan lindung dan sebagainya, yang area konservasi tinggi tapi tidak bisa di kelola. 

“Kira-kira potret hutan di Sintang akan seperti itu. Jadi, ini masih mengembirakan buat kita,” ujar Jarot.

Kemudian, kata Jarot, yang paling mengembirakan adalah melalui Kalfor Project, orang-orang yang ingin menjaga kawasan hutan di luar kawasan hutan, menjadi hutan di APL, dibantu untuk pemberdayaan dan sebagainya.  

“Kemarin di Ensaid Panjang, di mana di situ ada tiga cluster atau kelompok hutan di luar kawasan hutan yang sudah dijaga oleh masyarakat, sudah kita SK-kan sebagai kawasan ekobudaya. Tetapi masyarakat masih meminta dua lagi kawasan hutan, ini kan luar biasa,” terang Jarot.

Menurutnya, di Desa Sepulut juga meminta ada 14 hektare hutan di APL supaya tetap jadi hutan. Permintaan itu, langsung  di-SK-kan jadi hutan desa. Hal yang sama juga terjadi di Desa Merpak Tawang Selubang, ada 14 hektare sudah di-SK-kan sebagai hutah desa. 

“Kemudian teman-teman dari aliansi masyarakat adat, menyampaikan ada lima untuk menjadi kawasan hutan adat yang sedang kita proses. Semua itu upaya di tingkat tapak untuk menjaga sisa hutan di luar kawasan hutan. Semuanya kita support sepenuhnya,” tutur Jarot. (hms/lha)

Beri Pemahaman pada Stakeholder

Dekan Fakultas Pertanian Unka Sintang, Syarif Nizar Kartana mengatakan, dengan adanya seminar ini, diharapkan bisa memberikan pemahaman kepada seluruh stakeholder terkait, bagaimana mengelola hutan lestari berbasis industrialiasasi 4.0 tanpa meninggalkan kearifan lokal masyarakat Kabupapaten Sintang. 

“Karena terkadang dalam pengelolaan, sering terjadi benturan antara hal tersebut. Untuk itu, melalui penyampaian yang disampaikan oleh para keynote speaker bisa memberikan kita wawasan yang baru dalam mengelola hutan di Kabupaten Sintang ke depannya,” ujar Nizar. (hms/lha)