Silau Mata di Sail Karimata (3)

Wisata

Editor Kiwi Dibaca : 729

Silau Mata di Sail Karimata (3)
aktivitas nelayan dipulau karimata
Pada sebuah petang, para pelancong menyaksikan langsung, bagaimana warga lokal mencari ikan dengan menggunakan alat tangkap. Melalui kapal motor milik nelayan.   Rombongan melihat langsung, bagaimana masyarakat memancing ikan dengan cara senar tanpa joran, menangkap hasil ikan di bagan. Terakhir teknik ngancau. Untuk teknik satu dan dua tentu sudah biasa. Tapi teknik terakhir, yakni ngancau, menjadi perhatian para pelancong.   Yusup Maulana (32), warga lokal menyebutkan, ancau merupakan alat untuk menangkap ikan sejenis dengan trawl atau pukat. Teknik ngancau ini digunakan masyarakat untuk menangkap teri.

Dari penjelasan Yusuf ini, satu-persatu peserta bertanya kepadanya. Kali ini Yusup dibikin sibuk. Ia menjelaskan bagaimana teknik  menangkap kawanan teri  dengan ancau. “Pertama perhatikan kawanan ikan teri yang ada. Perhitungkan jumlah kawanan teri yang dilihat. Jika ikan teri-teri tersebut memungkinkan untuk dijaring, kepala penjaring harus siap dengan sebilah bambu atau galah,” kata Yusup, memperagakan cara ngancau atau jaring. Di sini, dalam proses ngancau, paling sedikit membutuhkan sepuluh orang. Dua orang pemegang galah satu orang berada di depan dan satu orang berada dibelakang. Dua orang dibutuhkan khusus untuk membuang jaring. Enam orang juga dibutuhkan, masing-masing tiga orang di sisi kiri dan kanan jaring

Hasanuddin, Kepala Desa Betok Jaya, saat mendampingi pelancong, bercerita, masyarakatnya sangat menghargai laut, karena lahan mereka mencari nafkah.  Sebenarnya, selain di laut, warga lokal bisa saja bercocok tanam di darat. Hanya saja, kebanyakan laan kepulauan, tekstur tanahnya bercampur pasari dan dianggap kurang baik untuk ditanami sayuran. Sebenarnya di sini sudah ada lahan tanah murni. Kata Hasanuddin, lokasinya justru di atas bukit.  Warga sebenarnya bukannya tidak mau untuk menanam tanaman di atas bukit. “Mereka menganggap percuma jika menanam tanaman di atas bukit. “Biasanya, kalau pagi ini kami tanam tanaman di bukit, esok harinya sudah hancur di makan Babi” tuturnya. Itulah mengapa,  membuat warga lebih menggantungkan hidup mereka ke laut. (Tim Redaksi)


Komentar