Ponticity post authorAdmin 26 Maret 2020 942

Dampak dari Mewabahnya Virus Corona, Harga Sembako di Pontianak Melambung Tinggi

Photo of Dampak dari Mewabahnya Virus Corona, Harga Sembako di Pontianak Melambung Tinggi MERANGKAK NAIK - Pemilik toko menjaga tokonya di kawasan Pasar Flamboyan Pontianak sambil menunggu para calon pembeli datang untuk berbelanja sejumlah sembako di tokonya, beberapa wakti lalu. DOK SUARA PEMRED

PONTIANAK, SP - Harga gula pasir yang dijual di sejumlah pasar tradisional di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, mencapai Rp20 ribu/kilogram dari sebelumnya di kisaran Rp14.500 /kilogram.
"Saat ini, gula pasir di Pasar Tradisional Teratai dijual dengan harga Rp20 ribu kilogramnya. Padahal pada awal bulan Maret 2020 masih ada yang jual dengan harga Rp14.500 /kilogram," kata Norsita, salah seorang warga saat ditemui di Pasar Teratai, Pontianak Barat, kemarin.
Selain gula pasir, beberapa bahan pokok lain juga terus mengalami kenaikan, seperti telur ayam ras, ikan dan sejumlah sembako lainnya. Namun, hanya harga ayam yang masih stabil saat ini.
"Hampir naik semua barang keperluan dapur saat ini. Mungkin ini disebabkan dampak virus Corona atau Covid-19. Tapi bisa jadi mahalnya harga bahan pokok ini karena ada yang sengaja untuk mencari untung besar, dengan cara menimbun," katanya.
Hal senada juga diakui oleh Dewi. Pada hal menurutnya tiga hari yang lalu harga gula pasir di Pasar Teratai, masih dijual dengan harga Rp17 ribu/kilogram.
"Kenaikan harga bahan sembako ini mulai mengkhawatirkan kami ibu-ibu rumah tangga, sekarang saja sudah pada naik, apalagi di bulan depan dan menjelang bulan Ramadan," katanya.
Dia berharap pemerintah mampu mengendalikan harga jual untuk bahan-bahan pokok tersebut, sehingga perlu diperhatikan guna menjaga daya beli masyarakat.

Stok Kurang

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalimantan Barat Samuel mengatakan, saat ini Kalbar mengalami kekurangan stok gula pasir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Kebutuhan masyarakat di Kalbar untuk gula pasir mencapai 2.000 ton per bulan, sedangkan stok yang ada saat ini hanya setengahnya, sehingga kita mengalami kekurangan stok gula pasir," kata Samuel.
Kelangkaan gula pasir tersebut dikarenakan, para petani tebu yang ada di Sulawesi dan pulau Jawa baru bisa melakukan panen pada bulan Mei mendatang, sehingga gula baru bisa diproduksi pada bulan Juni nanti.
Hal ini tentu mengakibatkan mahalnya harga gula di pasaran, karena dengan stok yang terbatas, maka hukum pasar akan berlaku, karena dengan barang yang sedikit dan harga akan bergerak naik.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, saat ini pemerintah pusat sudah mengeluarkan kebijakan untuk membuka kran impor gula, dimana kebijakan ini akan dilakukan hingga masa produksi petani tebu di bulan Mei dan Juni, kebutuhan gula untuk masyarakat akan terpenuhi, termasuk di Kalimantan Barat.
"Impor adalah kewenangan pemerintah pusat dan distributor juga sudah menyampaikan ke kementerian untuk kebutuhan gula di Kalbar. Tunggu nanti awal April 2020, gula pasir akan ada di semua daerah akan, termasuk kalbar bakal ada stok untuk masyarakat," tuturnya.
Ia melanjutkan jika stok nanti sudah tiba, pihaknya akan berkoordinasi dengan Satgas Pangan serta instansi terkait lainnya. Koordinasi dilakukan untuk memastikan rantai distribusi gula berjalan dengan baik. Termasuk memastikan tidak ada pihak-pihak nakal yang ingin bermain dengan stok gula.
Selain gula, Samuel juga memastikan stok bahan pokok lainnya saat ini dalam keadaan tercukupi. "Utamanya beras, bahkan beras cadangan pangan bisa untuk enam bulan ke depan," katanya.

Tindak Tegas

Sebelumnya Gubernur Kalbar, Sutarmidji telah menegaskan akan menindak tegas spekulan yang berani menimbun dan mempermainkan harga bahan pangan.
"Saya ingatkan kepada semua pedagang, distributor dan agen agar tidak menaikkan harga tak normal dan menumpuk bahan makanan. Saya akan tindak tegas, sita semua dan cabut izinnya," kata Sutarmijdi.
Kemudian, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak, Kalimantan Barat, Andreas Acui Simanjaya menyatakan setuju dengan langkah pemerintah menindak tegas spekulan bahan pangan di saat wabah Covid-19 sehingga stok dan harga di tengah masyarakat stabil.
"Kalau ada spekulan yang bermain dengan stok dan harga di tengah kondisi Covid-19 ini tentu mengganggu ketertiban umum. Masyarakat akan semakin resah, sehingga sangat setuju ditindak tegas," ujarnya.
Yang juga perlu ditindak, kata dia, yakni penyebar hoaks atau berita bohong dan penyebar kebencian."Penebar hoaks penting ditindak sehingga tidak menambah kekhawatiran di tengah wabah Covid- 19 ini," jelasnya.
Pihaknya menyambut baik pemberian insentif bagi pengusaha berupa keringanan pajak, penundaan pembayaran kredit bagi pengemudi daring, nelayan dan lainnya karena akan mengurangi beban masyarakat terkait dampak Covid-19.
"Saat wabah COVID-19 masyarakat ada yang tidak bekerja dan ada yang bekerja pun tentu penghasilannya turun karena permintaan turun. Nah, adanya insentif atau kebijakan pemerintah seperti penundaan kredit di tengah kondisi ini menjadi angin segar bagi masyarakat," jelas dia.
Ia menambahkan penting juga ada keringanan pembayaran BPJS dengan pemutihan tunggakan dan dendanya.
"Kemudian ada bantuan tunai yang terukur dan terstruktur sehingga tepat sasaran dan efektif," jelas dia.
Untuk pengusaha perlu difasilitasi dan didorong untuk mempergunakan bahan baku dari hasil petani lokal dengan berbagai insentif, misalnya subsidi pembelian bahan baku sehingga bahan baku bisa didapatkan dengan harga yang efisien dan petaninya juga mendapatkan harga yang baik .
"Demikian juga bantuan berupa bahan pangan dan sebagainya diprioritaskan membeli pada perusahaan yang mau mengalihkan kegiatan produksinya dengan menggunakan komoditas pertanian lokal. Walaupun tentunya mungkin harus menyesuaikan mesin dan skema produksinya," kata dia. (iat/din/ant)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda