Ponticity post authorel 01 April 2020 176

Pemkot Isolasi Warga yang Kontak dengan Jenazah

Photo of Pemkot Isolasi Warga yang Kontak dengan Jenazah TANGANI PASIEN - Personel Satgas Mobile Covid-19 membawa pasien diduga terjangkit virus Corona (Covid-19) di Rumah Sakit Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, belum lama ini. Pemkot Pontianak telah mengambil langkah penanganan terhadap meninggalnya warg

PONTIANAK, SP - Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak telah mengambil langkah penanganan terhadap meninggalnya warga Pontianak yang belakangan terkonfirmasi positif virus Corona (Covid-19).

"Pertama saya minta masyarakat tetap tenang, masyarakat sekitar lokasi juga tenang," ucap Edi Kamtono saat konferensi pers di Pontive Center Kantor Wali Kota Pontianak, Selasa (31/3).

Pemkot Pontianak katanya, telah telah melakukan Rapid Test kepada 26 orang, baik keluarga, tetangga dan kerabat yang sempat menghadiri pemulasaran jenazah perempuan berusia 69 tahun yang meninggal pada 21 Maret 2020 itu.

“Kita juga sudah sterilkan dengan penyemprotan disinfektan di sekeliling lingkungan tersebut dan mengisolasi warga yang berhubungan langsung. Sudah diambil juga tes Rapid Test. Ada keluarga dan mereka yang berhubungan dengan jenazah,” katanya.

Warga tersebut sebelumnya dirujuk ke RSUD dr Soedarso. Statusnya masuk kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP) karena ada indikasi Covid-19. Ketika yang bersangkutan meninggal dunia, hasil tes laboratorium dari pemerintah pusat belum keluar. Namun belakangan, ketika hasil tes laboratorium keluar, pasien dinyatakan positif Covid-19.

Setelah pasien meninggal dunia, jenazahnya diproses secara protokol dari rumah sakit. Para petugas yang menangani jenazah tersebut juga telah mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Namun dari pihak keluarga menginginkan adanya proses fardu kifayah di rumah.

"Pihak rumah sakit mengantarkan jenazah tersebut ke rumah, akan tetapi dengan persyaratan petugas fardu kifayah harus juga menggunakan APD lengkap. Ada tiga orang sampai proses pengafanan, namun ada beberapa anggota keluarga yang pakai masker dan menyolatkan dan mereka masuk kategori ODP,” kata Edi.

Secara otomatis yang berhubungan dengan warga tersebut sudah menjadi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan diminta melakukan isolasi diri. Mereka yang diisolasi juga akan diberi bantuan sembako dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dari pemerintah.

Menurut Edi, proses pengiriman dan pengujian sampel memerlukan waktu yang panjang hingga enam hari. Hal itulah yang menyebabkan penanganan cukup lamban. Namun dia memastikan segera setelah pengumuman hasil laboratorium, Pemkot Pontianak langsung melakukan proteksi kawasan tersebut.

“Begitu hasil laboratorium keluar kita langsung melakukan proteksi. Kita sudah menyemprotkan disinfektan di sekitar rumah dan lingkungan itu (kediaman almarhumah), juga melakukan isolasi ketat bagi keluarga dan tetangga almarhumah," katanya.

Namun yang paling penting dibutuhkan adalah keterbukaan dan kejujuran warga yang merasa yang bersentuhan langsung atau tidak dengan almarhumah. Paling tidak mereka isolasi diri selama 14 hari.

"Dan apabila ada gejala seperti demam, batuk dan filek maka harus memeriksakan diri ke Puskesmas atau layanan kesehatan. Selain itu, bisa juga menelpon atau menghubungi nomor tanggap Covid-19 Kota Pontianak, 0821-5702-2858," katanya.

Edi juga menegaskan, tak ada kebijakan untuk melakukan lockdown di wilayah tersebut. Kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi rumah duka diminta untuk tetap tenang dan tidak panik serta mengikuti imbauan pemerintah dan menjaga kebersihan. Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) juga diharap bisa menenangkan warga di lokasi tersebut.

"Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak panik, serta tidak melakukan hal-hal yang justru membuat ketidaknyamanan warga sekitar," ucapnya.

Selain itu, juga mengingatkan warga untuk tetap menjaga jarak (physical distancing), tidak berkumpul di keramaian dan selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan serta makan makanan yang bergizi.

"Ini adalah upaya kita untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19," katanya.

Ia juga meminta warga Kota Pontianak untuk tetap tenang dan waspada serta tidak mudah terpengaruh pada isu dan berita hoaks yang beredar.

"Percayalah kepada pemerintah, kita sudah melakukan upaya pencegahan dan sesuai protokol yang ditetapkan," pungkasnya.

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji juga sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatangan Penanganan Corona di Kalbar juga meminta seluruh masyarakat tetap mengikuti imbauan pemerintah.

Ia menyampaikan apabila ada keluarga yang meninggal berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) tetap mengikuti protap dan petunjuk tim medis dalam menangani jenazahnya. Meski belum ada hasil laboratorium pemeriksaannya keluar.

"Kalau ada keluarga meninggal dan status PDP, maka penanganannya harus ikuti pemerintah dan tim medis," ucap Midji, Selasa (31/3).

Pasalnya menurut Midji, jika salah dalam menangani jenazah maka akan berbahaya bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.

"Anda lebih baik tetap di rumah, jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan. Ganti pakaian dan mandi jika pulang ke rumah karena berinteraksi dengan orang lain," pungkasnya.

Sementara, Kepala Kepolisian Resort Kota (Kapolresta)  Pontianak Kota Kombes Pol Komarudin meminta masyarakat tidak mempercayai statmen dari orang yang tidak dalam kapasitas berbicara mengenai Covid-19. Apalagi saat ini banyak informasi yang simpang siur beredar di media sosial.

Dia juga meminta masyarakat untuk mempercayakan penanganan pandemi Covid-19 kepada pemerintah. Masyarakat juga diminta untuk tetap patuh terhadap imbauan yang dikeluarkan pemerintah.

"Akibat dari tidak mengindahkan imbauan akan berdampak pada masyarakat lain," kata Kombes Pol Komarudin.

Ia menambahkan, pihaknya mengapresiasi upaya yang dilakukan masyarakat untuk membatasi ruang gerak dalam mengantisipasi penyebaran pandemi Covid-19. Artinya kesadaran masyarakat semakin hari meningkat.

"Kedisiplinan menjadi wajib untuk diterapkan setiap orang," ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harisson pada Minggu (29/3) lalu menuturkan, dua PDP yang meninggal dunia di RSUD Soedarso Pontianak terkonfirmasi positif virus Corona (Covid-19).

Keduanya masing-masing adalah perempuan 69 tahun, dia meninggal dunia Sabtu (21/3). Pasien ini diketahui pernah bepergian ke Kapuas Hulu, Kalbar.

Kemudian, pasien pria berusia 50 tahun ini meninggal dunia Rabu (25/3). Pasien juga diketahui pernah bepergian ke Surabaya, Jawa Timur.

Harisson memastikan, penanganan pemulasaran jenazah tetap menggunakan standar orang meninggal terkonfirmasi positif Covid-19. (din/ant/ien)

Penyemprotan Disinfektan Serentak

Sebanyak 1.500 personil dikerahkan untuk melakukan penyemprotan disinfektan serentak di wilayah Kota Pontianak. Personil gabungan yang terdiri dari TNI/Polri, petugas pemadam kebakaran (damkar) dan relawan tersebut dilepas oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono di halaman depan Kantor Wali Kota Pontianak, Selasa (31/3).

Edi mengungkapkan apresiasi dan terima kasihnya kepada jajaran TNI/Polri, petugas damkar maupun relawan yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan penyemprotan disinfektan memang sudah dilakukan sejak beberapa pekan terakhir. Penyemprotan dilakukan di sudut-sudut kota sebagai upaya memusnahkan virus corona. Apalagi Pontianak merupakan satu diantara kota yang sudah terpapar oleh Covid-19.

"Pada hari ini secara serentak di seluruh pelosok kota,  jajaran TNI/Polri, Damkar dan relawan melakukan penyemprotan disinfektan," ujarnya.

Penyemprotan yang dilakukan serentak ini ditujukan pada fasilitas-fasilitas umum. Sementara, untuk wilayah-wilayah pemukiman, Edi mengimbau warga untuk melakukannya secara mandiri di lingkungan masing-masing.

Di hari yang sama, Wali Kota juga menyerahkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) kepada Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak. Bantuan yang disalurkan tersebut merupakan sumbangan dari para dermawan yang ada di Kota Pontianak.

"Kami mengharapkan juga bagi masyarakat yang ingin memberikan sumbangsihnya apapun bentuknya demi percepatan penanganan Covid-19," ucap Edi.

Pihaknya tak henti-hentinya terus memberikan semangat kepada jajaran petugas medis di rumah sakit untuk tetap bekerja profesional dan senantiasa menjaga diri. Para petugas medis adalah garda terdepan dalam menangani pasien yang terpapar Covid-19.

"Terlebih ODP dan PDP jumlahnya tidak sedikit sehingga kita berharap jajaran tenaga medis semuanya siap dalam penanganan pasien-pasien tersebut," katanya.

Tak hanya bantuan bagi tenaga medis, masyarakat yang terdampak akibat kebijakan dalam pencegahan penyebaran Covid-19, juga menerima bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak. Edi menyerahkan secara simbolis bantuan berupa sembako kepada para pedagang kaki lima Taman Akcaya yang terdampak penutupan sementara usaha mereka guna mencegah penyebaran Covid-19.

"Selanjutnya secara bertahap kita juga akan berikan bantuan serupa bagi masyarakat yang terdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung," sebutnya.

Terkait penanganan Covid-19, pihaknya tengah memetakan warga yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Saat ini, rapid test untuk deteksi dini Covid-19 di Kota Pontianak tersedia sekitar 2.000. Pihaknya akan mengupayakan untuk penambahan rapid test tersebut. Rapid test itu diprioritaskan bagi tenaga medis dan warga yang berstatus ODP dan PDP.

"Hari ini sudah kita mulai laksanakan rapid test untuk ODP dan PDP," ungkapnya.

Edi terus mengingatkan warga untuk tetap menerapkan physical distancing dan menghindari keramaian. Kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan banyak orang juga tidak diizinkan demi mencegah penyebaran Covid-19.

"Selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan rajin mencuci tangan pakai sabun serta makan makanan yang bergizi dan berolahraga," pesannya. (din/ien)

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda