Singkawang post authorShella 26 Agustus 2019

Sketsa Kopi di Tengah Kemeriahan Singkawang Expo 2019

Photo of Sketsa Kopi di Tengah Kemeriahan Singkawang Expo 2019 Romel Deni Andy Satria dan Wakil Wali Kota Singkawang, Irwan, berbincang mengenai proses lukisan kopi di ruang pameran “Projek Seni” di pintu masuk utama Stadion Kridasana saat penutupan Singkawang Expo 2019, Minggu (25/8) malam.
SINGKAWANG, SP - Seorang anak muda duduk sendiri. Ia mencermati Singkawang Expo 2019, sembari menyapu kuas di atas kertas.  

Dia menggunakan kopi untuk menciptakan sketsa kemeriahan itu, Minggu malam (25/8) di Tribun Stadion Kridasana, Singkawang.  

Namanya Romel Deni Andy Satria, seorang perupa muda yang aktif menggiatkan lukisan kopi di Singkawang.

Sebelumnya, dia juga pernah membuat workshop lukisan kopi dalam program “Kopi Semua Bangsa” bersama Perkumpulan MySingkawang di Canopy Center Singkawang (Pusat Niaga NHP) pada Juli lalu.   

Kali ini dia tertantang untuk membuat sketsa Singkawang Expo 2019 dari kopi. “Sambil mengisi waktu kan asyik sambil melukis,” ungkap Romel.  

Tak lama kemudian sejumlah anak-anak kecil menghampiri Romel. Mereka tertarik dengan apa yang dilakukan Romel.

Akhirnya, anak-anak itu pun terlibat menggambar. Ada yang menggambar gunung, bunga, rumah, dan sebagainya.  

Di tribun Kridasana, Romel dan anak-anak asyik menggambar. “Pernah menggambar dengan kopi,” tanya Romel kepada anak-anak.

“Belum….” jawab mereka. Bahkan di antara mereka ada yang menanyakan apakah harus membayar untuk terlibat menggambar bersama. Tentu saja jawaban Romel bisa ditebak. “Ndak usah bayar. Yang penting mau gambar dulu,” katanya.

Setelah menerangkan secara ringkas, anak-anak dengan cekatan menyapu kertas dengan cairan kopi. Saat waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB, mereka berpamitan pulang karena besok pagi harus sekolah.

Kemudian, gambar-gambar hasil anak-anak dikumpulkan Romel. Lukisan kopi bukanlah barang baru dalam dunia seni rupa di Indonesia, termasuk di Singkawang.  

Banyak seniman dan juga masyarakat yang telah menekuni lukisan kopi menjadi karya seni yang layak dijual.  

Upaya Romel pula merupakan respons terhadap banyaknya warung kopi di Singkawang. Namun dari sekian banyak warung kopi belum terlihat lukisan kopi terpajang.

“Semoga dengan kegiatan kecil ini, pelan-pelan, publik Singkawang mulai menyukai lukisan kopi. Harganya pun terjangkau,” kata Frino Bariarcianur, kurator pameran “Projek Seni”.  

Dalam pameran tertajuk “Projek Seni”, selama lima hari sepanjang kegiatan Singkawang Expo 2019, ragam lukisan kopi buatan Romel dan Niza Wiratama dapat dinikmati, yaitu gambar-gambar berupa sketsa bangunan heritage dan potrait. Pada saat penutupan, Wakil Wali Kota Singkawang, Irwan, berkesempatan melihat karya lukisan kopi.

Lebih lanjut Frino mengatakan, “Kami beruntung pihak Disperidagkopnaker (Dinas Perindustrian, Perdagangan, Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Tenaga Kerja) Singkawang memberikan ruang yang sering dilupakan ini. Ruang yang mengantarkan publik untuk melihat Singkawang Expo 2019. Meskipun banyak orang tidak menyadarinya.”  

"Kami berterima kasih atas kesempatan menggunakan ruang itu untuk pameran Projek Seni,” imbuh Frino.

Selain lukisan kopi, publik juga dapat menyaksikan hasil kerja empat Seniman Mengajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  

Empat seniman terdiri dari Arya Duta (Bali), Andrew James Roger (Bandung), Nursalim Yadi (Pontianak), dan Mahardika Yudha (Jakarta) merangkum kegiatan mereka dengan info grafis tentang proses melakukan kerja-kerja sosial, praktik musik eksperimental, sape flashdisk karya Sanggar Sarantangan serta menampilkan karya-karya kolaborasi Bengkel Tangkas RS Alverno dan masyarakat eks penderita kusta.

Para seniman yang terlibat juga menggalang donasi dari penjualan tas tye dye dan ecoprint. Sampai saat ini sudah terjual 20 tas dari 40 tas yang tersedia. Seluruh hasil penjualan itu akan menjadi modal usaha mengembangkan kerajinan ini. Setiap tas dibanderol seharga Rp100 ribu. (rud)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda